Pemikiran Prof. Hasan Langgulung, Ph.D. - Kreativitas dalam Pendidikan Islam.
Oleh: H. M. Syakur
Sf.
(Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang)
A.
PENDAHULUAN
Ada problem
akademik yang masih terpampang di depan mata hingga kini, bahwa dalam masyarakat
masih ada anggapan bahwa “anak yang baik adalah anak yang patuh, pandai
menyesuaikan diri, dan memiliki disiplin yang kuat”.[1]
Begitu pula dalam pendidikan, proses pendidikan bukan merupakan suasana yang mendorong
peserta didik pada penemuan jati diri dan kreativitas, melainkan justeru membawa
mereka ke arah wawasan yang dekat dengan “proses penjinakan” dan “domestikasi”.
Lebih parah lagi, aktivitas
pendidikan dilakukan menuju penyesuaian dengan pemi-kiran tertentu, terutama
menuju “jalan pikiran” pendidiknya. Kenyataan tersebut telah melanda di hampir
semua lembaga pendidikan, termasuk dalam pendidikan Islam.
Kasus di beberapa madrasah menunjukkan bahwa
proses belajar-mengajar (PBM) masih berlangsung dengan pola lama, yakni berproses
seperti sedang mengisi gelas kosong, di mana semua kegiatan berpusat pada
guru (teacher centred), dominasi ada pada guru. Unsur-unsur kecerdasan
emosional, keterampilan emosional, kreativitas, problem solving, dan
semacamnya masih dipandang sebagai “barang mewah”[2] yang terlupakan, sehingga penggalian
dan penumbuhan kreativitas siswa masih belum mendapat perhatian yang cukup.
Akibatnya adalah lembaga pendidikan sekarang --khususnya pendidikan Islam-- tidak
mampu melahirkan pemikir-pemikir besar[3] seperti pada masa lampau.
Berkenaan dengan
hal tersebut beberapa intelektual muslim dunia yang cukup produktif-kontributif
di era kontemporer telah tampil menyumbangkan pemikirannya. Di antara mereka
adalah pemikir pendidikan dari Indonesia, seperti Prof. Dr. Syed Muhammad
al-Naquib al-Attas (keturunan Arab-Sunda)[4]
dan Prof. Dr. Hasan Langgulung yang kini mereka telah menjadi warga negara
Malaysia. Tulisan ini akan mengetengahkan pemikiran Hasan Langgulung tentang
kreativitas dan upaya pengembangannya dalam pendidikan.
B.
PROFIL HASAN LANGGULUNG
1. Riwayat Hidup dan
Pendidikannya
Nama lengkapnya
adalah Prof. Hasan Langgulung, M.A., Ph.D. Nama keluarga dan kedua orangtuanya
tidak ditemukan oleh penulis. Ia
dilahirkan di Rappang Ujung Pandang Sulawesi Selatan pada tanggal 16 Oktober
1934.[5] Beliau berasal dari suku Bugis. Sekolah Dasar dan
Menengah Islam (1943–1949), Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Islam
(1949–1952), Sekolah Guru Islam Atas (1952–1955) dijalani di Ujung Pandang. Setamat pendidikan B-1 bidang bahasa Inggris (1957–1962)
Hasan melanjutkan pendidikan B-A dalam bidang Islamic Studies di
Fakultas Dar al-’Ulum Cairo University (1962). Hasan meraih Ijazah Diploma
dalam bidang Sastra Arab Modern dari Institute of Higher Arab Studies, Arab
League Cairo (1964), ijazah Special Diploma of Education (Mental
Hygiene) dari Ein Shams University Cairo (1963–1964), dan memperoleh gelar
master (M.A.) dalam bidang Psikologi dan Kesehatan Mental (Psychology Mental
Hygiene) dari lembaga yang sama (1967) dengan judul tesis al-M>>>uh{arr}ik
al-Indonesi: Ittijá>hatuh
wa Darajat Tawá>fuq Indah. Gelar Ph.D. dalam bidang psikologi diraih dari University of
Georgia Amerika Serikat (1971) dengan judul disertasi A Cross-Cultural Study
of Child Conception of Situational Causality in India, Western Samoa, Mexico
and the United States di bawah bimbingan Prof. E. Paul Torrence.[6]
2. Karya-Karyanya
Hasan Langgulung
termasuk pemikir yang produktif dan sangat memperhatikan bidang yang
digelutinya, yakni psikologi, filsafat, dan pendidikan Islam. Ia berhasil
menulis 14 judul buku dalam bidang psikologi, pendidikan, falsafah, dan Islam yang
telah diterbitkan. Ia juga menulis lebih dari 60 judul artikel yang termuat di
berbagai majalah Luar Negeri dan Dalam Negeri, seperti Journal of Special
Psychology, Journal of Cross-Cultural Psychology, Islamic Quarterly Muslim,
Education Quarter-ly, Dewan Masyarakat, Dian, dan lain-lain. Hasan juga telah
menerbitkan beberapa buku berbahasa Arab.[7] Di antara karya-karyanya terpenting dalam bidang psikologi
dan pendidikan adalah:
- Asas-Asas
Pendidikan Islam.[12]
3. Karirnya
Sebagai seorang akademisi, Hasan mempunyai
banyak karier dalam kehidupannya. Hasan memulai kariernya dengan menduduki
jabatan Kepala Sekolah Indonesia di Kairo (1957-l968). Beliau pernah
menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Pendidik-an Islam di International Islamic
University of Malaysia (IIUM). Kini Hasan menjabat sebagai Guru Besar dalam
bidang Psikologi dan Pendidikan di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), dan
Guru Besar bidang Sosiologi Pedesaan di Fakultas Ekonomi Universitas Malaysia
(UM) dengan jabatan Psychological Consultant di Stand-ford Research Institute
Menlo Park California; sebagai Teaching Assistant di University of Georgia
(l969-1970); dan Visiting Professor di University of Riyadh (l977-l978).
Hasan juga mempunyai beberapa kegiatan ilmiah
sebagai bagian dari kariernya, seperti:
a. Pemimpin Redaksi Journal Pendidikan, diterbitkan di University
Kebangsaan Malaysia;
b. Anggota Redaksi Akademika untuk Sosial Sciences & Humanities
Kuala Lumpur;
c.
Anggota American
Psychological Association (APA);
d. Profesor Madya dalam Psikologi dan Pendidikan di University
Kebangsaan Malaysia;
e. Maha Guru Luar Biasa dalam bidang Sosiologi Pedesaan pada
Fakultas Ekonomi University of Kebangsaan Malaysia;
f. Sebagai ketua ikatan mahasiswa Indonesia di beberapa negara di
Timur Tengah, beliau juga pernah mengajar selama satu tahun di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
C.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN HASAN
LANGGULUNG
1. Sumber Pemikiran
Dari karya-karyanya
di atas diketahui adanya isyarat betapa penulisnya adalah seorang pemikir yang
produktif dan luas wawasan di bidangnya. Produktivitas dan keluasan wawasannya
di bidang psikologi dan pendidikan Islam sangat dipengaruhi oleh sumber-sumber
yang dijadikan referensi, yaitu al-Qur`ân, al-sunnah, dan ijtihad shahabi.
a. al-Qur’an
Kaum muslimin telah
sepakat dan mengakui al-Qur`ân sebagai landasan sekaligus inspirator bagi
seluruh sisi kehidupan. Berkenaan dengan hal ini al-Faisal memberikan
penjelasan sebagai berikut:
It is last but not least, the basis of both moral an
general education .... As long as the Qur`ân remains a clear and effective
means for coordination is shuld suffice to provide the diverse branche of
knowledge .... If such a desideretum is achieved, all human disiplines will
retain that effective unity wich should always yeeld useful and inspiring
knowledge.[13]
Menurut Fazlur
Rahman, al-Qur`ân secara substansial adalah sumber dari segala ilmu dan
aktivitas, baik yang besifat doktrinal maupun praktikal, di samping sunnah.[14] Secara literal, al-Qur`ân berasal
dari akar kata qara‘a (bacaan, membaca), atau al-Kitab dari kata kataba
(tulisan, menulis), yang berarti bacaan dalam pengertian seluas-luasnya, sangat
berkaitan dengan pendidikan, bahkan seseorang tidak dapat berbicara tentang
pendidikan Islâm tanpa mengambil al-Qur`ân sebagai sumber rujukan. Dalam pendidikan Islam nilai-nilai dari
al-Qur`ân merupakan elemen dasar.[15] Al-Qur`ân merupakan Kalam Allâh
yang diwahyukan kepada Nabi. Rahman percaya pada proposisi bahwa Nabi adalah
penerima wahyu verbal Tuhan yang terakhir. Tanpa kepercayaan semacam ini tidak
seorang muslim pun yang dapat menjadi muslim sejati.[16] Sedangkan menurut Hasan Langgulung, al-Qur`ân adalah
landasan ideo-religio-filosofis bagi pendidikan Islam. Ada dua alasan baginya untuk
pernyataan ini. Pertama, berkenaan dengan perjanjian antara Tuhan dengan
manusia melalui ayat, “…Bukankah Aku Tuhan kalian? Benar, kami menjadi saksi
….”[17] Pernyataan tersebut
mengandung makna bahwa manusia menerima Tuhan sebagai Tuhan dan sebagai Penguasanya
(Rabb dan Malik) sekaligus. Kedua, sebelum Nabi Adam as. jatuh
dalam godaan setan Allâh telah mengajarkan nama-nama –sebagai pengetahuan
kognitif-- kepadanya,[18] yakni nama-nama Tuhan (al-asma`
al-husna), maupun
nama-nama segala sesuatu yang diperlukan dalam tugas kekhalifahannya.
Implikasi dari al-Qur`ân sebagai rujukan
pemikiran pendidikan Islam, menurutnya, adalah pandangannya tentang
keterhubungan (munasabah) antara pelbagai tema yang dibicarakan dalam al-Qur`ân,
seperti –terutama—tantang Konsep keesaan Tuhan, ciptaan dan Wahyu-Nya; Cerita
tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tujuan hidup, penderitaan jiwa, dan
nasibnya;[19] Peringatan bahwa manusia
bertanggungjawab atas segala tindakannya, --di mana hidup, kecerdasan,
kekuasaan hak milik, dan lain-lain diberikan kepadanya oleh Tuhan sebagai amanat--;
Perincian ajaran-ajaran terrnasuk tugas, kewajiban, dan hak-hak yang dirumuskan
oleh ahli fikih dalam shari’ah; dan Peranan Nabi Muhammad saw. dalam
serangkaian wahyu-wahyu Tuhan kepada umat manusia. Secara filosofis-ideologis, hal-hal
tersebut merupakan inti dasar ajaran Islam yang tidak boleh tidak harus
diketahui untuk dapat memahami pendidikan Islam.[20]
Implikasi yang lebih praktis dari al-Qur`ân
sebagai rujukan bagi pemikiran pendidikan Islam Hasan Langgulung dapat dilihat
dalam rumusannya tentang tujuan dan kandungan pendidikan Islam. Baginya tujuan
pendidikan harus dirumuskan sebagai arah yang akan dituju manusia secara
esensio-substansial. Artinya kesem-purnaan hidup sesuai dengan citra bagi
penciptaan manusia. Adapun secara lokal-temporal, kekhususan tujuan pendidikan
ditandai dengan karakteristik masing-masing komunitas di mana pendidikan
berlangsung.[21] Adapun mengenai kandungan pen-didikan
Islam, Hasan Langgulung berpandangan bahwa karena al-Qur`ân merupakan asas
teori pendidikan Islam, maka pninsip-prinsip al-Qur`ân harus merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari pelbagai mata pelajaran, bahkan memadukannya dalam
membentuk kurikulum.[22]
b. Al-Sunnah
Dalam mendudukkan
sunnah sebagai rujukan sekaligus tempat konsultasi dalam konstruksi
pemikirannya, Hasan Langgulung memandang segala kata-kata yang diucapkan Nabi
saw, segala tingkah laku yang diperbuatnya, serta segala sikap yang diambilnya
merupakan gambaran hidup terhadap pemikiran pendidikan Islam. Aisyah ra. pernah
menyatakan bahwa akhlak Rasul Allâh adalah al-Qur`ân. Rasul Allâh saw adalah guru
teragung dalam sekolah Islam, lulusan sekolah Ilahyyah di Gua Hira
yang meletakkan garis-garis besar pemikiran pendidikan islam. Dalarn ungkapan
yang lain, pemikiran pendidikan Islam dari sudut pandang al-Qur`ân dan sunnah
tidak muncul sebagai pemikiran pendidikan yang terputus, melainkan suatu
pemikiran yang hidup dan dinamis, berada dalam kerangka paradigma umum bagi
masyarakat seperti yang dikehndaki oleh Islam. Dari sini pemikiran pendidikan dalam al-Qur`ân dan
sunnah mendapatkan dan menunjukkan nilai keilmiahannya.[23]
c.
Ijtihad sahabat, pemikir Muslim, juga
pergumulannya dengan pemikir dan pemikiran Barat modern
Dalam pandangan Hasan Langgulung para sahabat
merupakan murid-murid dari Guru Teragung. Menurutnya, Sekolah Nabi Muhammad
saw. benar-benar telah melahirkan “manusia raksasa” yang dapat melintasi
segala kesulitan dan tekanan, serta mencatat-kan namanya dalam lembaran sejarah
sebagai orang-orang besar.[24] Salah satunya adalah Umar ibn al-Khattab
ra. yang mempunyai kemampuan tinggi dalam berijtihad. Umar tidak saja mengambil
apa yang baik dari umat lain, tidak memandang semua perkara yang bersifat ta’abbudi
(bernilai ‘ubudiyyah, devotional), dan tidak meng-hendaki adanya sikap jumud,
tetapi mengikuti pelbagai pertimbangan kemaslahatan, dan melihat makna-makna
yang merupakan poros penetapan hukum yang diridlai oleh Allâh.[25] Pandangan Hasan Langgulung
yang sangat apresiatif terhadap para sahabat tersebut menumbuhkan pemikiran
yang di satu sisi terkesan bernuansa klasik, tetapi, di sisi lain, intensitas
pergumulannya dengan para pemikir muslim dan pemikir Barat modern menjadikannya
tidak terasing di kalangan pemikir dan pemikiran kontem-porer. Hal
ini tampak dari namanya yang terpampang pada beberapa buku peng-hargaan kelas
dunia, seperti Who is Who in Malysia, Who’s Who in The World,
International Who’s Who of Intelectuals, Who’s Who in the Commonwelth, Men of
Achievement, dan Progressive Personalities in Profile.
2. Kreativitas: Modal Pendidikan yang Terlupakan
Dampak percepatan
teknologi telah merombak institusi masyarakat, yang lebih lanjut memicu
terjadinya perubahan sosial dalam tempo yang sangat tinggi. Untuk menghadapi
kenyataan tersebut lembaga pendidikan dituntut mampu menumbuhkan kemampuan
berpikir lain, bukan domestikasi dan penyesuaian (convergen), melain-kan
divergen, inovatif dan atau kreatif.[26]
Terma “kreativitas”
berasal dari creative, berarti having power to create. Sedang create
berarti couse something to exist.[27]
Hasan Langgulung memaknai kreativitas sebagai kesanggupan mencipta atau
daya cipta.[28] Dengan demikian inti
etimologis kreativitas adalah potensi diri dalam membuat sesuatu, atau
mendorong agar sesuatu menjadi ada.
a.
Fungsi Kreativitas
Dengan merujuk
pada beberapa pemaknaan yang berkembang di kalangan para psikolog selama ini
menurut Hasan Langgulung kreativitas dapat dipahami dari tiga perspektif sebagai
berikut.
1) sebagai
gaya hidup (creative person)
Dengan meminjam
teori Erich Fromm, dalam perspektif ini Hasan Langgulung menafsirkan
kreativitas melalui dua arah, yaitu “kreativitas abstrak” dan “kreativitas konkret”.
Kreavitas sebagai gaya hidup yang abstrak menyebabkan seseorang me-mandang
hal-hal biasa sebagai “sesuatu yang baru”. Semua hari dalam hidupnya merupakan
hari kelahiran baru, menghadapi hidup seakan-akan mengalaminya untuk pertama
kali tanpa ada perasaan pengulangan atau sesuatu yang lama. Seorang yang
kreatif tidak melihat sesuatu kecuali yang baru. Karena itu, reaksi dan respon
serta sikapnya juga selalu baru dan onisinal.
Sedangkan
kreativitas yang konkret meng-hasilkan “sesuatu yang baru” yang dapat dilihat
dan didengar orang lain.[29]
Anderson menyebut hal tersebut dengan terma kreativitas sosial, yakni
kreativitas dalam bidang-bidang hubungan sosial yang menuntut kecerdasan,
pengamatan tajam dan sehat, kepekaan dan penghormatan, serta keberanian
menyatakan pikiran dan kesediaan membela kepercayaan.[30] Seseorang dianggap
bergaya hidup kreatif apabila ia mampu memandang dan me-nyikapi segala
sesuatu secara baru dan dari sudut pandang baru, yang berbeda dari yang lama
dan biasa. Hal senada dinyatakan pula oleh E. Paul Torrence, bahwa creative
is being defference from compormiy and requiring nonhabitual rather than
habitual behavior.[31]
2) sebagai karya tertentu atau kreativitas
sebagai daya dorong untuk menghasilkan karya tertentu
Dalam fungsinya
sebagai daya dorong untk menghasilkan karya tertentu (the creative
product), kreativitas ditandai dengan hasil karya dan kebaruannya,
sebagai ditegaskan oleh Elshout, bahwa the creative product secara
definitif ditandai dengan kebaruan dan kepentingan dari apa yang diciptakan.[32] M. Mead senada
dengan pendapat ini memahami kreativitas sebagai “proses yang dilakukan
seseorang yang mendorongnya mencipta sesuatu yang baru baginya.”[33] Kreativitas dari sisi ini me-rupakan aktivitas
yang berujung pada adanya hasil berupa karya-karya tertentu.
3) sebagai proses intelektual
Dalam sisi ini ada kesan baru antara proses
kreativitas dan keterampilan problem solving. Seperti dinyatakan I
Taylor bahwa “ada semacam kesamaan antara kreativitas dan gaya penyelesaian
masalah”.[34] Bahkan MacKinnon secara tegas me-nyatakan
perlunya konsentrasi pemecahan masalah dalam setiap proses intelektual,
sehingga keterampilan dalam memecahkan masalah dapat dipandang sebagai bagian
dari kreativitas.[35] Dalam konteks ini Hasan Langgulung
memaknai kreativitas sebagai “proses intelektual” dengan bentuk pemikiran di
mana seseorang berpikir keluar dari apa yang dibiasakan oleh kelompok dalam
pelbagai bidang.[36]
b. Posisi Kreativitas: Pengaruh Otak dan Emosi
Dalam teori psikologi didapati sebuah adigium
bahwa perkembangan dan prestasi seseorang sangan bergantung kepada dua potensi
utama dalam diri seseorang, yaitu otak dan emosi.
1) Peran Otak dan Emosi
Klasifikasi kreativitas tersebut sekaligus
mengindikasikan besarnya potensi dan peluang untuk menjadi kreatif, mencakup
keseluruhan dimensi kehidupan itu sendiri. Semboyan "no limit to
study" yang telah beredar sejak era ‘60-an itu kini dapat dipandang
berdimensi ganda. Pertama, percepatan perubahan sosial akan selalu men-jadikan
pengetahuan orang tertinggal, sehingga seseorang dituntut untuk selalu dan
terus belajar. Kedua, potensi kodrati manusia, khususnya otak. Para ahli
menyebutkan bahwa otak umumnya hanya berfungsi sekitar 5-25 %, sehingga upaya
optimalisi ke-mampuan menuntut --tetapi juga memberi peluang-- untuk senantiasa
belajar.[37] Prosentase peran
otak (IQ) bagi keberhasilan seseorang sering dibandingkan dengan peran emosi
(kecerdasan emosi/ EQ). Jarudin Sianipar dari pembacaannya atas pel-bagai hasil
penelitian menyatakan, bahwa “IQ hanya berpengaruh 20 persen terhadap
kesuksesan, sedang 80 persennya adalah faktor lain, termasuk Intelligence
Emotional (IE)”.[38]
Daniel Golleman --dalam Wrkiing with Emotional Intellzgence-- memaparkan
hasil penelitiannya atas “superstar” manajemen lebih dari 150 perusahaan
raksasa, di mana ia menemukan, bahwa peran IQ dalam mendorong pelbagai
kesuksesan yang demikian tinggi adalah no more than 25 percent,
dan peran emosi tampak sangat determinan.[39]
1) Letak kreativitas: dalam otak, emosi, atau dimensi
potensialitas manusia?
Menurut Hasan Langgulung, kreativitas merupakan
“limpahan” dari daya kreasi Tuhan, tidak lepas dari asal Ilahi (divine origine).
Dalam kaitan ini Hasan menyebut-kan empat sifat Tuhan, yaitu al-Kha>liq,[40] al-Khalla>q[41], al-Badi>’’[42] dan al-Mushawwir.[43] Dari beberapa ayat tentang “penciptaan”
terlihat bahwa penciptaan itu belangsung dalam tiga tahapan. Pertama,
penciptaan pada masa lalu, yakni penciptaan semesta (wujud) dari tiada (‘adam);
kedua, penciptaan di akhirat, yaitu hari kebangkitan; ketiga,
penciptaan yang merupakan kesinambungan dari pengembangan penciptaan yang
pertama, berupa “pengaruh” Allâh dalam alam dengan gejala yang berke-lanjutan.
Penciptaan bentuk ketiga ini --dalam pengertian perubahan dan perkem-bangan--
berkaitan dengan kreativitas manusia, karena manusia mencipta bukan dari tiada,
tetapi dari sesuatu yang telah ada. Hal ini menyangkut “perbuatan” Tuhan dan
pengaruhnya terhadap “perbuatan” manusia.[44] Tela’ah lebih jauh tentang hal ini
di luar jangkauan kajian ini, namun dalam sudut pandang psikologi, kreativitas
masih bisa dilihat lebih lanjut dari sisi potensialitas manusia itu sendiri.
3) Kecerdasan: potensi kreativitas
Secara umum dalam kajian tentang manusia,
khususnya menyangkut potensi kecerdasannya, dikenal tiga model kecerdasan,
yaitu Kecerdasan Rasional (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan
Spiritual (SO). Kecerdasan rasional adalah kemampuan mengarahkan pikiran atau
tindakan, kemampuan mengkritik diri sendiri, kemampuan untuk berpikir secara
abstrak dalam pemecahan masalah yang dihadapi maupun yang akan datang, serta
belajar dari pengalaman. Dengan kata lain, kecerdasan rasional adalah
kecerdasan untuk memahami dan bertindak secara intelektual. Kecerdasan
emosional merupakan kecakapan mengelola dan menata diri, kapasitas untuk berempati
terhadap emosi dan perilaku orang lain, serta bereaksi secara relevan.
Unsur-unsurnya adalah kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi dan empati itu
sendiri.[45] Adapun kecerdasan spiritual adalah kemampuan
untuk menye-imbangkan makna dengan nilai, dan menempatkan kehidupan dalam
konteks yang lebih luas. SQ menjadikan pemiliknya benan-benar terintegrasi
secara intelektual, emosional, dan spiritual.
c. Potensi yang memunculkan kreativitas
Dari limpahan kerja otak-rasional, dari emosi,
atau dari dimensi spiritual? Menurut Guilford, untuk mendeteksi kemampuan
kreatif seseorang dapat dilihat dari aspek berpikir (intelek) dan aspek motivasi
(emosi). Dari aspek berpikir, kreatifitas ditunjukkan oleh sifat-sifat
kelancaran (fluency), kelenturan (flexibility), dan keaslian (originality)
dalam pemikiran, sedangkan dari aspek motivasi kreativitas ditunjukkan
oleh sifat-sifat karakter, antara lain seperti sikap percaya diri, tidak
konvensional, dan apresiasi keindahan.[46] Faktor lain yang berperan dalam kreativitas,
khususnya dalam berpikir, adalah flexibility, originaliy, elaboration
(kemampuan mengoperasional-kan), dan minat dasar tertentu dalam berpikir, yaitu
toleran terhadap kejumbuhan, menyukai berpikir divergen, menyukai
berpikir reflektif, dan menyukai ekspresi estetik.
Ada dua faktor utama dalam kreativitas dalam
berpikir, yakni berpikir divergen dan berpikir inovatif. Lebih
lanjut, berpikir divergen mempunyai dua aspek yakni fluency dan flexibility.[47] Fluency atau fluency of thinking --atau kadang-kadang disebut
sebagai idea fluency (kelancaran ide-ide)-- adalah kemampuan menciptakan
ide sebagai alternatif pemecahan masalah. Di sini tampak baurnya kreativitas
dengan keterampilan problem solving. Orang yang kreatif dalam pandang-an
ini adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mengajukan ide-ide atau
alternatif untuk pemecah-an masalah. Orang yang kreatif mampu melihat masalah
dari pelbagai alternatif pemecahannya. Adapun Flexibility --atau
kadang-kadang disebut sebagai idea flexibility (kelenturan pemikiran)--
adalah kemampuan meninggalkan suatu kerangka pikir untuk menuju ke kerangka
pikir yang lain. Orang yang kreatif tidak terikat pada cara pikir ataupun cara
pemecahan lama dan biasa, tetapi ia selalu berupaya menemu-kan alternatif baru
untuk suatu pemecahan masalah yang lebih efektif.
Dari analisis tersebut, terlihat bahwa
kreativitas dapat muncul dari otak-rasional maupun emosi. Kreativitas
yang muncul dari dimensi emosional sesuai dengan pan-dangan tentang otak kanan
yang berkarakter logis, matematis, sekuensial atau akademis; sedangkan otak
kiri yang cenderung emosional-artistik-ritmis-inovatif-imajinatif, juga disebut
sebagai aktivitas kreatif, menjadi sangat terkait dengan asal-muasal
munculnya kreativitas.[48] Di sisi lain, terdapat pandangan
bahwa IQ dan SQ secara terpisah maupun sama-sama, tidak cukup untuk menjelaskan
keseluruhan kompleksitas kesadaran manusia, juga kekayaan jiwa dan
imajinasinya. Mereka (yang hanya menggunakan IQ dan EQ) bekerja dalam
batasan, memainkan “permainan terbatas”. SQ memungkinkan manusia menjadi
kreatif, mengubah aturan dan situasi. SQ memungkinkan kita untuk bermain dengan
batasan, memainkan “permainan tak terbatas”.[49]
d. Klasif`ikasi Kreativitas
Klasifikasi kreativitas, dengan demikian, dapat
digambarkan bahwa pengem-bangan kemampuan kreatif di bidang seni dapat saja
diekstensikan ke samping (lateral horizontal) ke bidang ilmu, atau dapat
pula sebaliknya; dan dapat pula masing-masing secara independen. Berbeda dengan
kreasi yang menyangkut nilai individual dan nilai hidup sosial, sifatnya lateral
sekuensial, merupakan keharusan untuk menguji kreasi yang terkait ke nilai
individual dengan nilai sosial; dan juga sebaliknya. Kreativitas atas
pertimbangan nilai individual harus diuji fungsi sosial-nya; demikian pula
sebaliknya. Relasi dan pengujian demikian perlu pula dilakukan untuk
kreativitas atas pertimbangan nilai biofisik terhadap nilai rasional, dan sebalik-nya;
juga kreativitas atas pertimbangan estetis terhadap nilai biofisik, dan sebalik-nya.[50] Yang terakhir menyangkut kreativitas dalam
kaitannya dengan dimensi SQ yang secara langsung maupun tidak langsung
berhubungan dengan nilai etis-religius.
Dari gambaran tersebut, menurut Hasan
Langgulung, kreativitas dapat dikelom-pokkan menjadi tiga yang berpasangan dan
tampak dapat saling berkomplementasi, baik dalam saling rnengembangkan maupun
saling mengkritik atau menguji, yakni antara beberapa fungsi kreativitas:
1)
Antara estetik/ seni-ilmu;
2) antara
individual-sosial; dan
3) antara biofisik-rasional.
Lebih lanjut, tentang kreativitas dalam
pertimbangan nilai etis-religius atau kreativitas dalam dimensi SQ serta
hubungannya dengan nilai-nilai yang lain dapat dipilih dan dipilah menjadi yang
insani (ciptaan sejarah manusia) dan yang Ilahi (wahyu Tuhan
lewat para Rasul). Nilai insani dapat dikembangkan, dimodifikasi atau diganti;
sedangkan pada nilai Ilahi pengembangan, modifikasi atau penggantian-nya
terbatas pada tafsirnya atas asumsi kemampuan manusia terbatas, karena wahyu
Tuhan me-miliki kebenaran hakiki dan merupakan kebijaksanaan yang paling dalam.
Dalam hal ini kreativitas nilai etis-insani hendaknya mampu menyesuaikan dengan
nilai manusiawi lainnya; dan kreaflvitas semua nilai hendaknya koheren dengan
tafsir kita tentang nilai etis-Ilahi.
Di sini tampak pembedaan kreativitas antara
yang insani yang terbatas dan yang Ilahi yang tanpa batas. Namun,
kreativitas Ilahi tersebut dapat dipahami melalui kreativitas insani
dalam bentuk penafsiran atas kreasi Ilahi. Menurut Langgulung, kreativitas
merupakan salah satu sifat Tuhan, yakni al-Kha>liq,
yang dapat dikembang-kan pada diri manusia, --atau yang dalam pandangan para
filsuf Islam dianggap-- sebagai ibadah dalam pengertian yang luas.[51] Kreativitas
semacam inilah yang di-butuhkan dalam dunia pendidikan.
e. Karakter Kreativitas dan Strategi
Pengembangannya
Merujuk pada
Rogers, Hasan Langgulung membicarakan tiga ciri pokok suatu kerja kreatif,
yaitu: 1) keterbukaan terhadap pengalaman; yakni kesediaan menerima rangsangan
yang dihadapi dalam pengalaman bebas tanpa pelbagai bela diri, dan me-nanggapi
rangsangan itu sebagaimana sebenarnya, tanpa wujud kerangka terlebih dahulu; 2)
penilaian tentang kreativitas harus bersifat internal, benar-benar merupa-kan
pernyataan pikiran dan perasaan yang bersangkutan; dan 3) kesanggupan
ber-interaksi secara bebas dengan konsep-konsep dan unsur-unsur; yakni dengan
serpihan-serpihan pikiran dan gagasan baru sehingga dapat menemukan konsep
baru.[52] Jadi,
manusia-manusia kreatif (anak berbakat), dalam pelbagai bidang yang
digelutinya semuanya mempunyai ciri yang membedakannya dari orang-orang umum.
Orang kreatif adalah orang memiliki kadar kelenturan yang tinggi yang rnen-jadikannya
bebas berdikari, dan dalam waktu yang sama ia juga berinteraksi dan bergaul
dengan manusia. Orang kreatif memencilkan diri ketika sedang bekerja dan
berkarya, tetapi bersifat terbuka dan gembira ketika ia membuka dirinya kepada
manusia termasuk pikiran-pikiran yang sedang bergolak di kalangan mereka.[53]
Kebebasan dan kemauan adalah dua hal yang tidak
terpisah. Tidak ada jalan untuk menuju pada kemauan tanpa kebebasan. Merujuk
pada Kant, Hasan menyata-kan kebebasan kemauan adalah dasar moral dan tempat bertanggungjawab.[54] Dalam pemikiran Islam masalah kebebasan
mendapat tempat tersendiri. Kebebasan kemauan dipandang sebagai masalah
intelektual yang pertama-tama menarik perhatian kaum muslimin, sehingga banyak
menyedot perhatian, energi dan waktu kaum muslimin. Artinya, kebebasan
merupakan prasyarat dari munculnya suatu kreativitas.[55]
3.
Pengembangan kreativitas dalam Pendidikan
Menurut Langguung, manusia mempunyai sifat
kreatif. Artinya, kognisi atau pengenalan, dan selanjutnya pengetahuan tentang
diri dan lingkungannya tidak di-terima secara pasif, tetapi selalu memberi
kreasinya, dan muncul efek untuk mengubah-kembangkan, muncul kreasi
psiko-motoriknya agar efektif, indah, menye-hatkan, dan memberi peluang
ekspresinya. Muncul pula kreasi performansinya dengan beberapa rekayasa, karena
keterbatasan fisiknya. Kognisi, afeksi, dan psiko-motorik manusia selalu ingin
mengkreasi sesuatu yang lebih baru. Dengan demikian wilayah pengembangan
kreativitas menjadi sangat luas, dan pengembangan krea-tivitas anak pada dasarnya
sejalan dengan pengembangan kepribadian anak yang sehat, percaya diri dan
mandiri, yang selanjutnya tumbuh menjadi orang yang kreatif dan produktif.
Pendidikan yang hanya menekankan pada salah
satu aspek potensi anak, misalnya aspek kecerdasan (kognisi, intelektual) saja,
tidak bisa diharapkan untuk mengembangkan kreativitas, baik di sekolah, di
rumah maupun di mana pun. Begitu pula model pengajaran yang hanya bersifat informatif
atau pemberian pengetahuan (transfer of knowledge), pemberian fakta-fakta
terbatas pada hal yang dipilih oeh guru atau orangtua dengan harapan agar “dikuasai”
anak. Semuanya tidak akan rnengembangkan kreativitas, bahkan lebih cenderung
menumpulkannya --kalau bukan mematikan kreativitas--. Belajar yang demikian
bagi anak menjadi bersifat menghafal (verbal) dan menyimpan, untuk
kemudian diingat dan dinyatakan kembali sesuai dengan apa yang disampaikan oleh
“sang guru”. Pengajaran semacam ini akan menghambat kemampuan kreativitas anak,
dan tidak akan mampu rnengembangkan kecerdasan tingkat tinggi, seperti
kemampuan menganalisis atau mensintesis per-masalahan yang dihadapi. Model
rutinitas pembelajaran pada dasarnya menjadikan anak “menderita kebosanan”,
tidak menimbulkan kegembiraan dan kegairahan, dan karenanya. sangat tidak membantu
dalam pengembangan kreativitas.[56] Dalam proses yang demikian tidak ada
kreativitas, tidak ada keseriusan, dan tidak ada rasa ingin tahu (h{irs{), sebaliknya yang ada hanya
penindasan kemampuan berpikir dan mencipta.[57]
Menurut Hasan, pendidikan yang bernuansa
kreatif adalah pendidikan yang dekat dengan kehidupan nyata, yakni pendlidikan
yang terbuka. Sebab, keterbukaan merupakan suatu prasyarat sekaligus sebagai
salah satu karakteristik kreativitas itu sendiri. Terbuka adalah siap menerima
pengalaman baru, dan selalu mencari pe-muasan atas keingintahuan (curiosity, hirsh
= حرص
, inquiry) terhadap sesuatu.[58] Pendidikan yang terbuka dapat
dipahami bahwa pendidik, baik guru/ orangtua/ pengelola, harus terbuka terhadap
realitas anak yang memerlukan kemerdekaan, kebebasan, dan kegembiraan dalam
pertumbuhan serta perkem-bangannya. Begitu pula sebaliknya, siswa harus diberi
kesempatan untuk terbuka dalam arti bebas mengemukakan pikiran, pendapat dan
keluhannya dalam rangka melatih serta mene-mukan jati dirinya. Guru dan siswa
harus terbuka terhadap realitas sekitar yang dapat dimanfaatkan sesuai
kepentingan pendidikan, atau perlu ditolak jika menghambat pencapaian tujuan
pendidikan.
Dengan model dan sistem pendidikan terbuka,
menurut Hasan, akan didapatkan beberapa hal. Pertama, bahwa secara
alamiah sangat banyak bahan-bahan yang tersedia di lingkungan yang dapat
diprogramkan untuk merangsang pengembangan kreativitas anak, berupa benda-benda
maupun tumbuh-tumbuhan dan sebagainya; Kedua, secara teknologis dewasa ini
banyak barang-barang mainan yang tersedia yang memang dirancang untuk
pendidikan (educational toy), dari yang mudah sampai yang sulit, dan educational
toy dengan materi bahasa sampai matematika, bahkan akhir-akhir ini muncul game
menggunakan perangkat komputer dengan fasilitas internetnya; Ketiga,
karena kemampuan kreatif mencakup hampir seluruh dimensi kepribadian termasuk
perasaan atau emosi, bahkan spiritualitas di mana emosi juga berperan besar
dalam mendorong kesuksesan orang, maka keterampilan mengelola emosi juga
menjadi penting. Pengajaran atau pelatihan kecerdasan emosional dapat
diprogramkan untuk mendukung pengembangan kreativitas.[59]
Untuk mendukung tercapainya model pendidikan
terbuka (opened education), kegiatan anak harus dibentuk sedemikian rupa
hingga dapat menumbuhkan ke-mampuan berpikir bebas dan mandiri; diciptakan
iklim dan situasi yang segar dan menyenangkan bagi anak agar mereka memiliki
kemerdekan dan keberanian me-nyampaikan ide-ide, pendapat-pendapat mengenai apa
yang dipahami dari proses pengajaran atau pendidikan, dan suasana yang mana
siswa tanpa ragu dapat me-nyampaikan apa yang dirasakannya perlu dan menarik.
Pendidikan terbuka dan demokratis akan mendorong munculnya proses pembelajaran
yang berkembang ke arah yang lebih emansipatoris dengan nuansa tertentu, yakni,
nuansa di mana otonomi berpikir peserta didik dihargai, dan potensinya digali
sehingga memungkinkan bagi perkembangan kreativitas mereka. Dengan pengembangan
potensi diharapkan ter-bangun sikap mandiri yang tetap menjunjung tinggi nilai
kooperatif. Sikap kreatif dan mandiri itu sendiri tetap harus dilandasi dengan
kegemaran dan kegembiraan serta kebiasaan yang konstruktif.
D.
PENUTUP
Kreativitas dalam hubungannya dengan nilai etis-religius
terpilah menjadi etis-religius yang insani dan etis-religius yang Ilahi. Pada
kedalaman kedirian manusia, termuat nilai spiritual yang di dalamnya terletak
inti keimanan kepada Yang Maha Pencipta (the Creator, al-Badi’).
Iman bagi pemiliknya yang sungguh-sungguh akan menjadi sumber pemenuhan segala
kebutuhan spiritual-psikologisnya, bahkan ke-butuhan ke-”aman”-annya
ketika berkiprah dalam kehidupan. Komitmen spiritualitas yang intrinsik dengan
kedirian seseorang akan dapat berfungsi sebagai esensi kehi-dupanya, akan
menjadi sumber energi lahir-batin, menjadi sumber imajinasi-inspirasi dan pada
ujungnya adalah kreasi secara nyata (Q.S. al-‘Ashr: 3). Sabda Nabi saw. seperti “Tuntutlah
ilmu dari buaian sampai kuburan”, “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”,[60] “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”,[61] dan lain-lain dapat di-pandang dan disikapi
sebagai dorongan bagi munculnya sikap kreatif. Sikap ini me-nuntut
keterbukaan dalam kehidupan untuk memunculkan kreativitas.
Dalam pendidikan Islam ada keselarasan antara
penemuan mutakhir di bidang pendidikan dan pembelajaran dengan apa yang
diintroduksi dalam al-Qur`ân. Konsep belajar dalam surat al-'Alaq ayat
1-5 dapat dipandang sebagai model belajar “meng-hadapi masalah”, di mana lembaga
membaca diiringi dengan arah atau objek yang problematis penuh dengan
muatan-muatan yang menuntut pemecahan kreatif. Kreati-vitas merupakan
“limpahan” dari daya kreasi Allâh (fit{rah Allâh). Setiap anak manusia mempunyai potensi
intelektual, emosional, dan spiritual yang dapat men-dorong untuk berkreasi.
Potensi tersebut hendaknya dikembangkan, baik melalui pendidikan fofrmal maupun
nonformaal, agar terwujud kreativitas. Untuk memuncul-kan potensi kreatif pada
anak dibutuhkan suasana pembelajaran yang terbuka dan kondusif, tanpa ada
tekanan dan paksaan (ghalidh al-qalb), dengan proses yang menyenangkan (basyir-yasir), dan pendekatan humanistik (rahmah
min Allâh). Kebebasan
tanpa tekanan dari pihak mana pun merupakan prasyarat bagi tumbuh-kembangnya
kreativitas anak dalam perkembangannya sebagai wujud perkembangan IQ, EQ, dan
SQ melalui proses belajar. Pengembangan kreativitas dan kepribadian anak harus berjalan
seirama agar tumbuh mejadi orang yang kreatif, produktif, dan berakhlaq karimah.
Wa Allâh a’lam bi al-shawab.mms2f
----------------------------------
DAFTAR BACAAN
‘Abd
al-Azi>z, S{a>lih dan ‘Abdul ‘Azi>z ‘Abdul Maji>d}. at-Tarbiyah
wa T}uruq at-Tadris (Kairo: Dâr al-Ma’ârif, 1971), cet. X.
‘Abu>d, ‘Abd al-Ghani. al-Isla>m wa Tah}addi> al-‘As}r: at-Tarbiyah
al-Mustamirah fi al-Isla>m – Ta’li>m al-Jama>hi>r,
Majallah Mutakhas}s}as}ah, Tusdaru ‘an al-Jiha>z al-‘Arabi, al-Qa>hira,
as-Sanah at-Tha>lithah, al-‘Adad: 5, Yana>nir (Ka>nu>n
at-Tha>ni>), 1976.
Al-Abrashiy,
Muh}ammad ’At}iyah. Ru>h} at-Tarbiyah
wa at-Ta’li>m. Mesir:
’I>sa> Ba>b al-H{a>labi>, 1969.
Ah{mad,
Lut}fi> Baraka>t. Fi> al-Fikr at-Tarbawi>y al-Isla>mi>. Riyad: Da>r al-Mari>h{,
1982.
‘Ali, Sa’i>d Isma>’il. al-Qur`ân al-Kari>m Ru’yah Tarbawiyyah. Kairo: Da>r al-Fikr al-’Arabi>, 2000.
‘Aliyya>n,
Fa>t}imah bint Shaukat Muh}ammad. Muqawwama>t at-Tarbiyah al-Isla>miyyah. Riyad: t.p., 1414 H./ 1994.
‘Aliyya>n,
Fa>t}imah bint Shaukat Muh}ammad. Mafhum at-Tarbiyah
al-Isla>miyyah. Riyad: t.p., 1414 H./ 1994.
Anderson, H., (ed.), Creativity
and it’s Cutivation, (New York: Harper & Row, 1959).
Aswin, Fauziah, Peluang
Penerapan Psikologi Islami dalam Pendidikan dan Perkembangan, makalah
(Surakarta: UMS, 29 Nopember 1998).
Assegaf, Abdurrahman dan Suyadi, Pendidikan Madzhab Kritis. Yogyakarta:
Gama Media, 2008.
Asy’ari, K.H.
Hasyim. A>da>b al-‘A>lim wa al-Muta’allim.
Jombang: aف-Turath al-Islami, 1415 H./2007.
Al-Attas, Sayyid Muhammad Naquib. the Concept of
Education in Islam. Kuala Lumpur: ISTAC, 1991.
Al-Attas, Syed Muhammad an-Naquib (ed.), Aims
and Objectives of Islamic Education. Jeddah: King Abdul ‘Aziz University,
1979.
Azwar, Saifuddin, Psikologi Intelegensi,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996).
Bates, Dennis and Gloria Durka (ed.). Education, Religion and Society: Essays in Honour of John M. Hull. Taylor
& Francis, Inc., 2005.
Brubacher,
John S. Modern Philosophies of Education. New Delhi: Mc.Graw-Hill
Publishing Company LTD., 1981, Ed. IV.
Cowie, A.P., Oxford
Leaner’s Dictionary, (Oxford University Press, 1989).
Ad-Dakhi>l, Muh}ammad ‘Abdur
Rah}ma>n Fahd. Madkhal ila> Us}u>l at-Tarbiyah al-Isla>miyyah.
Riya>d}: Da>r al-Khari>ji>, 2003, cet. II.
Elshout, Creativity,
dalam Torsten Husen (ed.), the International Encyclopedia of Education,
vol. 2, (Pargamon, 1994).
al-Faisal al-Saud,
Muhammad, the Glorious Qur`ân is the Foundation of Islamic Education.
Frankena,
William K. Three Historical
Philosophies of Education. Atlanta: Scott, Foresman and Company, 1965.
Freire,
Paulo. Pendidikan sebagai Proses, terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2008, cet. III.
Fromm, Erich, The
Creative Attitude, dalam Anderson (ed.), Creativity and it’s Cutivation,
(New York: Harper & Row, 1959).
Gabbard, D. and Saltman, Ken (eds). Education
as Enforcement: The Militarization and Corporatization of Schooling, 2003.
Al-Gha>midi>,
’Abdur Rah}ma>n ibn ’Abdil Kha>liq ibn H{ajar. Madkhal ila> at-Tarbiyah al-Isla>miyyah. Riya>d}: Da>r
al-Khari>ji>, 1418 H.
al-Gharra>b, Muhammad Mahmud.
al-Insa>n al-Ka>mil min Kala>m as-Shaikh al-Akbar Muh}yiddi>n ibn
al-‘Arabi. Damaskus:
Dar al-Fikr, 1990.
Goleman, Daniel, Working
with Emotional Intelligent, terj. Alex Tri Kancono Widodo, (Jakarta: Gramedia,
2000).
Henhy,
Nelson B. (ed.). Philosophies of Education. Chicago: The University of
Chicago Press, 1962.
Ibn
al-‘Adawi>, Mus{t}afa>. Fiqh Tarbiyah al-Abna>’. Mesir: Da>r
Ma>jid ‘Usayri>, 1998.
Al-Jumbu>lati>,
’Ali, dan ’Abdul Futu>h{. Perbandingan Pendidikan Islam. terj. M. Arifin. Jakarta: Rineka Cipta, 2002, cet. II.
Jusuf,
Amir Feisal. Reorientasi Pendidikan Islâm. Jakarta: Gema Insani, 1995.
Al-Kailani, Majid. Ahdaf at-Tarbiyah fi
Tarbiyah al-Fard wa Ikhraj al-Ummah. al-Ma’had al-‘Alami lil-Fikr
al-Islami, 1417 H.
Kandel, Isaac Leon. American
Education in the Twentieth Century. Cambridge: Harvad University Press,
1957.
Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka
a-Husna, 1992).
Langgulung, Hasan, Kreativitas dan Pendidikan Islam, (Jakarta:
Pustaka al-Husna, 1991).
Langgulung, Hasan, Pendidikan dan Peradaban Islam (Jakarta:
Pustaka al-Husna, 1985).
Langgulung, Hasan, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam,
(Bandung: al-Ma’arif, 1979).
Langgulung,
Hasan. Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan.
Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986.
Mac. Kinnon, Donald W., Creativty,
Psychological Aspect, dalam David I. Sills (ed.), International Encyclopedia
of the Social Science, vol. 3 (New York: The Macmillan Co.& Free Press,
1968).
Madjid, Nur Cholis, dalam
Budhy Munawar Rachman, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah,
(Jakarta: Paramadina, 1994).
Maksun, Ali, et.al. Paradigma Pendidikan Universal di Era
Modern dan Post-Modern. Yogyakarta: IRCiSoD, 2004.
Mead, M., Creativity in
Cross-Cultural Perspectives dalam Anderson (ed.), Creativity and it’s
Cutivation, (New York: Harper & Row, 1959).
Muhajir, Noeng, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial,
(Yogyakarta: Rake Sarakin, 1993).
Munandar, Utami
S.G., Creativity and Education, disertasi, (Jakarta: UI, 1977).
al-Naquib, al-Attas, Syed
Muhammad, (ed.), Aims and Objectives of Islamic Education (Jeddah: King
Abdul ‘Aziz University, 1979).
Prakosa, Heru. Prinsip Pedagogi Transmormatif dan
Kesetiaan Kreatif. BASIS. nomor 0-08, tahun ke-56, Juli-Agustus 2007.
Rahman, Fazlur, Devine
Revelation and the Prophet (terj.) Taufiq Adnan Amal dalam Metode dan
Alternatif Neo Modernisme Islam Fazlur Rahman, (Bandung: Mizan, 1989).
Rahman, Fazlur, Health
and Medicine in the Islam Tradition (New York: the Crossoad Publishing co.,
1987).
Rahman, Fazlur, Islam
(Chicago: The University of Chigago Press, 1979).
Rahman, Fazlur, Islâm
and Modernity: Tranformation of an Intellectual Tradition, terj. Ahsin Muhammad
(Bandung: Pustaka, 1995), II.
Ridla, Muhammad Jawwad, Dr., al-Fikr al-Tarbawi al-Islâmi, (Kuwait:
Dar al-Fikr al-’Arabi, 1980).
Rohmad, Ali. Kapita Selekta Pendidikan. Yogyakarta: Teras, 2009, cet. II.
Saleh, Abdur Rahman, Educational
Theory : a Qur`ânic Outlook, (Makkah al-Mukarramah: Umm al-Qura University,
1982).
Salim, Peter, the
Contemporary English-Indonesia Dictionary, (Jakarta: Modern English Press,
1987).
Sianipar, Jarudin, dalam Wawasan,
24 Mei 1998.
Suryabrata,
Sumadi. Psikologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005, cet.
XIII.
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002, Cet. VII.
Syakur, Mahlail. Tafsir
Kependidikan: Menelusuri Jejak Kisah al-Khadlir dalam al-Qur`ân. Kudus:
MASEIFA Jendela Ilmu, 2012.
Taufik, Proses Belajar
Mengajar dalam Pendidikan Islam: Laporan Penelitian Psikologi Pendidikan
(Yogyakarta: PPs IAIN Sunan Kalijaga, 1998).
Taylor, I., the Nature
of the Creative Person, dalam P. Smith (ed.), Creativty (New York:
Harting House, 1959).
Tibawi, A.L. Islamic
Education. London:
Luzac & Co., 1972.
Torrence, E. Paul, The
Creative Person, dalam Lee C. Deigthon (ed.), the Encyclopedia of
Education, vol. 2, (1971).
at-Toumy, al-Syaibany, Omar
Mohammad, Prof. Dr., Falsafah
Pendidikan Islam, Terj. Prof. Dr. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1979).
Ulwa>n,
‘Abdulla>h Na>sih. Tarbiyah
al-Awla>d fi> al-Isla>m. Jeddah: Da>r al-Sala>m, 1992, cet. XXI.
Vos, Jeannete, The
Learning Revolution, (Auckland: The Leraning Web, 1999).
Zamroni.
Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: BIGRAF Publishing, 2000.
Az-Zarnu>ji.
Ta’li>m al-Muta’allim Turuq at-Ta’allum. Semarang: Toha Putera, t.th.
Zoha, Danah, et.al., SQ:
Spiritual Intelligent, the Ultimate Intelligent, terj. Rahmani Astuti,
(Bandung: Mizan, 2001).
[2] Taufik, Proses Belajar Mengajar dalam Pendidikan
Islam: Laporan Penelitian Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: PPs IAIN Sunan
Kalijaga, 1998).
[3]
Fazlur Rahman, Islam (Chicago: The University of Chigago Press, 1979),
h. 185.
[4] Ia lahir di Bogor, Jawa Barat, tahun 1931,
menjalani pendidikan dasar di Sukabumi dan Johor Baru. Ia menempuh
pendidikan di The Royal Military Academy, Sandhurst, England, lalu ke
University of Malaya, Singapura. Gelar master diraihnya di McGill University,
Montreal, Canada, dan Ph.D. di University of London, Inggris dengan konsentrasi
bidang ‘Islamic Philosophy’, ‘theology’ dan ‘metaphysics’.
terkenal sebagai pengkaji sejarah, teologi, filsafat dan tasawuf yang serius,
juga terkenal sebagai pemikir pendidikan Islam yang brilliant. la bersama-sama
intelektual muslim lainnya seperti Khursid Ahmad, Hasan Langgulung, Hamid Hasan
al-Bilgrami, Ziaduddin Sardar, Syed Sajjad Hussein, Syed Ali Ashraf, dan Ismail
Raji al-Faruqi sangat cemas menyaksikan realitas pendidikan Islam yang
berlangsung selama ini. Salah satu karyanya berjudul Aims and Objectives of
Islamic Education (Jeddah King Abdul ‘Aziz, 1979).
[5] Prof. Dr. Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah
Pendidikan Islam, Terj. Prof. Dr. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1979), halaman Cover belakang.
[6] Prof. E. Paul Torrence adalah
guru yang ideal, sangat memberikan perhatian kepada para mahasiswa, memberikan
bimbingan dengan cara-cara yang menyenangkan. Lihat beberapa karyanya yang
mencantumkan biografinya di bagian akhir buku, seperti Asas-asas Pendidikan
Islam (Jakarta: Pustaka a-Husna, 1992), dan Pendidikan dan Peradaban
Islam (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985).
[7]
Hasan Langgulung, Pendidikan… Op. Cit, h. 249.
[13] Muhammad al-Faisal
al-Saud, the Glorious Qur`ân is the Foundation of Islamic Education,
dalam Syed Muhammad al-Naquib al-Attas (ed.), Aims and Objectives of Islamic
Education (Jeddah: King Abdul ‘Aziz University, 1979), h. 126-9.
[14] Fazlur Rahman, Health
and Medicine in the Islam Tradition (New York: the Crossoad Publishing co.,
1987), h. 2-3.
[15]
Abdur Rahman Saleh, Educational Theory : a Qur`ânic Outlook, (Makkah
al-Mukarramah: Umm al-Qura University, 1982), h. 22-27.
[16] Fadzlur Rahman, Devine
Revelation and the Prophet (terj.) Taufiq Adnan Amal dalam Metode dan
Alternatif Neo Modernisme Islam Fazlur Rahman, (Bandung: Mizan, 1989), h.
44.
[17] Baca surat al-A’raf: 172.
Baca teksnya: àMó¡s9r&
öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s%
4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ ....
[18] QS. Al-Baqarah: 31. teks ayatnya:
zN¯=tæur tPy#uä uä!$oÿôF{$# $yg¯=ä. ....
[19] Di sini juga terdapat cerita tentang perjanjian (mi>tha>q), petunjuk asal kepada Adam,
kesesatannya, dan ingatnya kembali.
[24]
Ibid., h. 120-122.
[25] Nur Cholis Madjid, dalam
Budhy Munawar Rachman, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah,
(Jakarta: Paramadina, 1994), h. 346-348.
[26] Domestikasi berasal dari
kata domestic-domestication, berarti penjinakan, mengarah pada kepatuhan;
konvergen berasal dari convergence, berati pertemuan pada satu titik,
mengarah pada penyeragaman; divergent berarti berbeda, yang menyimpang,
mengarah pada kemampuan berpendapat lain, tampil beda; inovatif berasal dari innovation-innovative berarti
perubahan-pembaruan, mengarah pada hal-hal baru secara konseptual. Baca Peter
Salim, the Contemporary English-Indonesia Dictionary, (Jakarta: Modern
English Press, 1987), h. 544, 406, 538, 970.
[27]
A.P. Cowie, Oxford Leaner’s Dictionary, (Oxford University Press, 1989),
h. 88.
[29] Erich Fromm, The
Creative Attitude, dalam Anderson (ed.), Creativity and it’s Cutivation,
(New York: Harper & Row, 1959), h. 44.
[30]
Anderson (ed.), Creativity and it’s Cutivation, (New York: Harper &
Row, 1959), h. 119.
[31] Prof. E. Paul Torrence, The
Creative Person, dalam Lee C. Deigthon (ed.), the Encyclopedia of
Education, vol. 2, (1971), h. 552.
[32] Elshout, Creativity,
dalam Torsten Husen (ed.), the International Encyclopedia of Education,
vol. 2, (Pargamon, 1994), h. 1176.
[33] M. Mead, Creativity in
Cross-Cultural Perspectives dalam Anderson (ed.), Creativity and it’s
Cutivation, (New York: Harper & Row, 1959), h. 223.
[34] I Taylor, the Nature
of the Creative Person, dalam P. Smith (ed.), Creativty (New York:
Harting House, 1959), h. 53.
[35] Donald W. Mac. Kinnon, Creativty,
Psychological Aspect, dalam David I. Sills (ed.), International
Encyclopedia of the Social Science, vol. 3 (New York: The Macmillan
Co.& Free Press, 1968), h. 437.
[36] Haasan Langgulung, Kreativitas
dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1991), h. 177.
[37]
Noeng Muhajir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta: Rake
Sarakin, 1993), h. 85.
[38]
Jarudin Sianipar, dalam Wawasan, 24 Mei 1998.
[39]
Lihat Newsweek, Oktober 19, 1998. Bandingkan Daniel Goleman, Working
with Emotional Intelligent, terj. Alex Tri Kancono Widodo, (Jakarta: Gramedia, 2000).
[46] Danah Zoha, et.al., SQ:
Spiritual Intelligent, the Ultimate Intelligent, terj. Rahmani Astuti,
(Bandung: Mizan, 2001), h. 3-15.
[49]
Jeannete Vos, The Learning Revolution, (Auckland: The Leraning Web,
1999), h. 125-131.
[50]
Lihat Danah Zoha, et.al., SQ: Spiritual Intelligent, h. 4-5.
[51]
Noeng Muhajir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial, h. 85.
[52]
Hasan L., Kretivitasn dan Pendidikan Islam, h. 306-307.
[53]
Ibid., h. 316.
[54]
Ibid., h. 317.
[55]
Ibid., h. 257.
[56] Paulo Freire menilainya
sebagai “merintangi jalan menuju kreatif”. Menurutnya, otoritarianisme (guru,
orang tua, atau siapa saja yang mendampingi anak) akan nerintangi kreativitas
anak.
[57] Fauziah Aswin, Peluang
Penerapan Psikologi Islami dalam Pendidikan dan Perkembangan, makalah
(Surakarta: UMS, 29 Nopember 1998).
[60] HR. al-Baihaqi, melalui Anas ibn Malik ra. Matan hadith ini masyhur, tetapi
isnadnya dla’if. Lihat hadith nomor 1612.
[61] Hadith riwayat Muslim,
melalui Abu Bakar ibn Abi Shaibah dan ‘Amr al-Naqidz dari al-Aswad ibn ‘Amir
dari Hammad ibn Salamah dari Hisham ibn ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aishah. Lihat
Shahih Muslim, hadith nomor 4358.
Komentar
Posting Komentar