Cara Melaksanakan Shalat Tasbih
Shalat Tasbih
Hakekat dan Cara Mengerjakannya
Salah satu shalat sunnah yang dianjurkan oleh para ulama kita
adalah shalat tasbih. Dinamakan demikian karena di dalam shalat tersebut
banyak dibaca tasbih. Sebagian masyarakat muslim di Indonsia menjadikan
shalat tasbih sebagai sarana untuk mendapatkan lailatul qadr di bulan
Ramadhan. Untuk menjaring malam yang sangat mulia ini mereka melakukan
shalat malam secara berjamaah di sepuluh malam terakhir Ramadhan dan
shalat tasbih dipilih untuk menjadi sarananya.
Para ulama mendasarkan kesunnahan
shalat tasbih pada sebuah hadits riwayat Abu Rafi’ di mana Rasulullah
memberitahukan kepada paman beliau Abbas tentang tata cara dan berbagai
keutamaan melakukan shalat tasbih. Dalam berbagai kitab fiqih yang menuturkan
perihal shalat tasbih para ulama menyebut hadits yang cukup panjang tersebut.
Meski dipandang sebagai hadits dlaif (lemah) namun para ulama Syafi’iyah
seperti Abu Muhammad Al-Baghawi dan Abul Mahasin Ar-Rayani menetapkan
kesunnahan shalat tasbih ini. Ini sebagaimana dituturkan oleh Imam Nawawi dalam
kitab al-Adzkâr.[1]
Bila
dilihat dari sisi keutamaannya para ulama memandang shalat tasbih
memiliki keutamaan yang begitu besar sampai Imam As-Subki menyatakan
bahwa tidaklah orang yang mendengar tentang keutamaan shalat tasbih
namun ia meninggalkannya (tidak melakukannya) kecuali orang itu adalah
orang yang merendahkan agama (lihat: Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhâjul Qawîm, Beirut: Darul Fikr, tt., hal. 203).
Adapun
waktu pelaksanaan shalat tasbih dapat dilakukan kapan saja, baik siang
hari ataupun malam hari, sepanjang tidak pada waktu yang dilarang untuk
shalat. Hanya saja Imam Nawawi memiliki pendapat yang menyatakan adanya
perbedaan dalam teknis pelaksanaan shalat tasbih di siang dan malam
hari. Bagi beliau bila shalat tasbih dilakukan di malam hari maka akan
lebih baik bila dilakukan dua rakaat – dua rakaat masing-masing dengan
satu salam. Namun bila dilakukan di siang hari maka bisa dilakukan dua
rakaat satu salam atau langsung empat rakaat dengan satu salam. Dalam
kitab Al-Adzkâr-nya beliau menyatakan:
فإن صلى ليلاً فأحبّ إليّ أن
يسلّم في ركعتين ، وإن صلّى نهاراً فإن شاء سلّم وإن شاء لم يسلم
Artinya:
“Bila shalat dilakukan di malam hari maka lebih kusukai bila bersalam
dalam dua rakaat. Namun bila di siang hari maka bila mau bersalam (pada
dua rakaat) dan bila mau maka tidak bersalam (di dua rakaat).”
Lalu bagaimana tata cara melakukan shalat tasbih?
Imam Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitabnya al-Minhâjul Qawîm menuliskan:
و صلاة التسبيح وهي أربع ركعات يقول في كل ركعة بعد
الفاتحة والسورة: سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر، زاد في
الإحياء: ولا حول ولا قوة إلا بالله خمس عشرة مرة وفي كل من الركوع والاعتدال وكل
من السجدتين والجلوس بينهما والجلوس بعد رفعه من السجدة الثانية في كل عشرة فذلك
خمس وسبعون مرة في كل ركعة [1]
Artinya: Dan (termasuk shalat
sunnah) adalah shalat tasbih, yaitu shalat empat rakaat di mana dalam setiap
rakaatnya setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya membaca kalimat
subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar—di dalam kitab
Ihyâ ditambahi wa lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh—sebanyak 15
kali, dan pada tiap-tiap ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan
duduk setelah sujud yang kedua masing-masing membaca (kalimat tersebut)
sebanyak 10 kali. Maka itu semua berjumlah 75 kali dalam setiap satu rakaat.
Dari penjelasan Ibnu Hajar di atas dapat disimpulkan tata cara pelaksanaan shalat tasbih sebagai berikut:
1.
Pada dasarnya tata cara pelaksanaan shalat sunnah tasbih tidak jauh
berbeda dengan tata cara pelaksanaan shalat-shalat lainnya, baik syarat
maupun rukunnya. Hanya saja di dalam shalat tasbih ada tambahan bacaan
kalimat thayibah dalam jumlah tertentu.
2. Setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya, sebelum ruku’ terlebih dahulu membaca kalimat subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar (selanjutnya kalimat ini disebut tasbih) sebanyak 15 kali. Setelah itu baru kemudian melakukan ruku’.
3.
Pada saat ruku’ sebelum bangun untuk i’tidal terlebih dahulu membaca
tasbih sebanyak 10 kali. Setelah itu baru kemudian bangun untuk i’tidal.
4. Pada saat i’tidal sebelum turun untuk sujud terlebih dahulu membaca tasbih sebanyak 10 kali, baru kemudian sujud.
5. Pada saat sujud yang pertama sebelum bangun membaca tasbih sebanyak 10 kali, baru kemudian bangun untuk duduk.
6.
Pada saat duduk di antara dua sujud sebelum melakukan sujud kedua
membaca tasbih sebanyak 10 kali, baru kemudian melakukan sujud yang
kedua.
7. Pada saat sujud kedua sebelum bangun membaca tasbih sebanyak 10 kali.
8.
Setelah sujud yang kedua tidak langsung bangun untuk berdiri memulai
rakaat yang kedua, namun terlebih dahulu duduk untuk membaca tasbih
sebanyak 10 kali. Setelah itu barulah bangun untuk berdiri kembali
memulai rakaat yang kedua.
Kalimat Tasbih yang dimaksud adalah:
سبحان الله والحمد لله ولا إله
إلا الله والله أكبر
Dengan demikian maka
dalam satu rakaat telah terbaca tasbih sebanyak 75 kali. Untuk rakaat
yang kedua tata cara pelaksanaan shalat dan jumlah bacaan tasbihnya sama
dengan rakaat pertama, hanya saja pada rakaat kedua setelah membaca
tasyahud sebelum salam terlebih dahulu membaca tasbih sebanyak 10 kali,
baru kemudian membaca salam sebagaimana biasa sebagai penutup shalat.
Wallâhu a’lam. (Mahlail Syakur Sf.)
Disadur dari http://www.nu.or.id/post/read/94875/tata-cara-pelaksanaan-shalat-tasbih

Komentar
Posting Komentar