Khuthbah Idul Fitri 2019 / 1440 H.
IDUL FITRI
(DERADIKALISASI BERAGAMA DAN BANGSA)
(1)
الله أكبر ( 9 x) الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسيحان الله بكرة وأصيلالآإله إلا الله وحده ، صدق وعده ، ونصر عبده ، وأعزّ جنده ، وهزم الأحزاب وحده - لآإله إلا الله ولا نعبد إلآ إياه مخلصين له الدين، ولو كره الكافرون - لآإله إلا الله والله أكبر– الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله الذي جعل هذا اليوم عيدا للإسلام، وحرّم علينا فيه الصيام. أحمده وأشكره على إنعامه وكمال إحسانه وهو ذوالجلال والإكرام. وأسأله الهداية والتوفيق على الانقياد لدينه الإسلام
أشهد أن لآإله إلا الله وحده لاشريك له، و أشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على أشرف الأنبياء وإمام المرسلين، سيدنا ومولانا محمد ، ما أرسله ربّه إلا رحمة للعالمين، وعلى آله الطاهرين، وجميع أصحابه المنتخبين، وجميع التابعين وتابعي التابعين بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد، فياأيها الحاضرون المسلمون العائدون الفائزون، رحمكم الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتنّ إلا وأنتم مسلمون. واعلموا أن هدا اليوم يوم عظيم وهو يوم عيد الفطر الكريم ، وهذا يوم جديد للمسلمين الصائمين في شهر رمضان الماضي بتمام الصيام. وقد أحلّ الله لنا فيه الطعام وقد حرّم لنا فيه الصيام. وقد قال رسول الله s: للصائم فرحتان ، فرحة عند إفطاره وفرحة عند لقاء ربه. وكل هذه تدلّ على عظمة ربنا وكرمه. فلهذا أيها الحاضرون المسلمون ... كبّروه تكبيرا وحمّدوه كلّ الحمد وسبحوه تسبيحا لعلّكم تتقون.
وقال تعالى في كتابه الكريم: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Dalam suasana yang berbahagia ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT., Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa.
Dengan siraman rahmat dan karuniaNya kita dapat menyambut hari yang agung ini, hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1440 H. dengan tertib, aman, khidmat, dan menyenangkan.
Tumbuhnya rasa syukur dan bahagia ini terpancar nyata pada wajah-wajah kita sekalian kaum muslimin, karena telah mampu memenuhi kewajiban ibadah shaum sebulan penuh disertai dengan qiyamu ramadhan. Kita telah menyemarakakan suasana ramadhan dengan melaksanakan shalat tarawih berjamaah, bertadarrus al-quran, beritikaf dan diakhiri dengan mengeluarkan zakat fitrah untuk disampaikan kepada yang berhak menerimanya. Semuanya itu kita laksanakan atas dasar keimanan dan keikhlasan, semata-mata hanya mengharap ridla Allah SWT., tidak karena terpaksa dan tidak pula karena dipaksa oleh siapa pun.
Sikap ini sesuai dengan iqrar yang senantiasa kita ucapkan:
رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيّا ورسولا
(Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku).
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر
Sejak tadi malam hingga pagi hari ini, suara takbir, tahmid, dan tahlil digelorakan secara serentak oleh jutaan kaum muslimin di seluruh dunia, mulai dari ujung barat hingga ujung timur, sebagai pengakuan dan pernyataan sikap bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang maha Agung.
Suara takbir, tahmid, dan tahlil yang serempak menggema di seluruh penjuru dunia, membahana masuk ke dalam dada dan kalbu manusia, menyentuh relung terdalam sisi kemanusiaan kita, dan menumbuhkan kesadaran akan kemahaagungan Allah SWT.
Semua manusia, seorang raja sekalipun adalah sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan Allâh, karena jabatan dan kedudukan terhormat yang dimilikinya tidak akan kuasa menolongnya manakala malaikat maut datang menjemput.
Oleh karena itu, pada hari yang mulia ini marilah kita curahkan segala perhatian kita untuk ruku, sujud dan pasrah kepadaNya. Mudah-mudahan kita senantiasa berada dalam lindungan dan rahmatNya.
Hadirin, sidang shalat Id yang berbahagia! رحمكم الله
Hari ini merupakan hari bahagia (‘id mubarak) bagi kita semua, khususnya bagi mereka yang telah menyelesaikan tugas mulia, berpuasa sebulan lamanya. Hal ini patut disyukuri, karena tidak semua orang yang mengaku muslim mampu dan mau melaksanakan kewajiban ini. Banyak orang yang berbadan kekar dan sehat tetapi tidak mampu berpuasa. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang fisiknya lemah, sudah tua dan sakit-sakitan tetapi mampu dan sanggup melaksanakannya. Kemampuan ini sesungguhnya merupakan karunia dan hidayah Allah kepada orang-orang yang dikehendakinya, yaitu orang-orang yang beriman.
Hari ini juga merupakan hari yang diberkahi, dimuliakan, dan hari maghfirah. Untuk itu marilah kita masing-masing berintrospeksi diri terhadap kesalahan kita kepada sesama manusia maupun dosa kepada Allah SWT.
Mudah-mudahan puasa yang telah kita laksanakan sebulan lamanya menjadi wasilah untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepadaNya, dalam kesempatan ini tidak ada salahnya bila kita sedikit mengenang serpihan kecil kisah tentang detik-detik terakhir menjelang Rasul Allah sas. wafat. Mudah-mudahan menjadi bahan pertimbangan dan pedoman hidup kita masa kini dan untuk masa yang akan datang.
Pada saat melaksanakan Haji Wada, Rasul Allah sas. berkhutbah, beliau menyampaikan wahyu terakhir yang baru saja diterimanya. Rasul Allah sas. mengatakan bahwa Malaikat Jibril as. tidak akan datang lagi menemuinya.
Mendengar berita itu, para sahabat menjadi sangat gembira sebab menganggap bahwa Islam telah sempurna. Sebaliknya, Sayyiduna Abu Bakar ra. justeru tidak memperlihatkan kegembiraan. Beliau nampak sedih dan menahan duka yang mendalam. Saat itu juga beliau langsung pulang dan mengunci diri dalam kamar sambil menumpahkan segala kesedihannya.
Mendengar informasi tentang Abu Bakar yang demikian itu, para sahabat segera memburu ke rumahnya dan menanyakan kepada Abu Bakar, mengapa beliau bersedih dan tidak menampakkan kegembiraan.
Abu Bakar ra. menjawab:
Apakah kalian tidak tahu bahwa agama ini telah sempurna, kata Rasul Allah? Apakah kalian juga tidak menyadari jika datang kesempurnaan itu pertanda akan datang kekurangan? Tidakkah kalian sadari, bahwa hal itu merupakan isyarat bahwa tidak lama lagi Rasul Allah sas. bakal berpisah dengan kita selamanya? Bila Rasul Allah telah tiada, apa yang akan terjadi? Tiada lain, akan muncul berbagai persoalan baru. Sanggupkah kita mengatasi berbagai persoalan itu? itulah yang aku pikirkan“.
Mendengar perkataan Abu Bakar ra. tersebut, para sahabat kemudian bergegas menemui Rasul Allah sas. dan bertanya: Benarkah apa yang dikatakan Abu Bakar itu, ya Rasul?
Benar, jawab Rasul Allah.
Mendengar jawaban tersebut, para sahabat pun tak kuasa menahan tangis.
Mereka merasakan kesedihan yang mendalam karena akan ditinggalkan oleh manusia yang amat mereka cintai.
Betapa tidak, siang dan malam jiwa dan raga mereka pertaruhkan untuk melindungi keselamatan Rasul Allah sas.. Cinta mereka kepada nabinya melebihi segala-galanya. Mereka ikhlas memberikan harta kekayaan miliknya demi perjuangan menegakkan Islam. Sementara yang amat mereka cintai itu kini berada di ambang kematian.
Tak lama setelah itu Rasul Allah sas. pun sakit keras dan berada dalam keadaan kritis.
Rasul Allah sas. saat itu sangat tidak berdaya, berada di pangkuan putrinya Siti Fatimah ra.
Sesaat ketika malaikat maut menjemput, Rasul Allah sas. masih sempat berwasiat dengan bersabda: Ummatiy, ummatiy, ummatiy (Ummatku, ummatku, ummatku ).
Rasul pun kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir, kembali ke haribaan yang menciptakannya.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Dari ucapan yang singkat tersebut, tampak seperti ada yang dicemaskan oleh Rasul Allah sas. terhadap ummat yang akan ditinggalkannya.
Apa sebenarnya yang beliau risaukan?
Apakah beliau kuatir meninggalkan jabatan kenabiannya, meninggalkan harta kekayaan, meninggalkan istri-istri yang mencintainya? Ataukah beliau kuatir meninggalkan putra-putrinya?
Tidaklah semua itu. Rasul Allah sas. tidak pernah cemas meninggalkan kedudukannya sebagai nabi dan rasul, serta sebagai kepala pemerintahan, sebab Rasul Allah sas. bukanlah orang yang haus jabatan dan kedudukan.
Beliau justeru merisaukan ummatnya yang memegang jabatan dan kedudukan tertentu, karena kedudukan dan jabatan terkadang menjadi penyebab putusnya tali shilaturrahim. Karena kedudukan, manusia bisa melupakan Tuhannya; karena kedudukan, manusia berani menggadaikan aqidahnya; karena kedudukan, barang yang nyata-nyata haram dapat menjadi halal, judi dikemas menjadi sumbangan berhadiah, prostitusi disulap sebagai panti pijat; bahakan karena kedudukan pula terkadang manusia sampai hati menjerumuskan saudaranya sendiri yang seiman.
Apakah Rasul Allah sas. cemas karena akan meninggalkan harta kekayaan?
Tidak sama sekali. Sebab Nabi sas. sendiri bukanlah orang kaya. Bahkan beliau dikenal sebagai Bapak Kaum Miskin (Abu Masaakin).
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Yang dirisaukan Rasul Allâh sas. adalah ummatnya yang telah dikendalikan oleh harta kekayaan, sehingga ada manusia yang hidup dan matinya semata-mata untuk memburu kekayaan, mereka tidak lagi ingat ibadah kepada Allah SWT.
Rasul Allah sas. risau terhadap perilaku manusia yang kekenyangan, sementara tetangganya berada dalam kelaparan.
Rasul Allah sas. risau kepada orang yang selalu bermasa-bodoh terhadap saudaranya yang berada dalam kesusahan.
Rasul Allah sas. juga sangat kuatir meninggalkan orang yang mabuk kekayaan, yang dengan kekayaannya itu ia sanggup membeli apa saja yang diinginkannya tanpa memperhatikan batasan halal dan haram.
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Apakah Rasul Allah sas. bersedih karena akan meninggalkan istri-istrinya?
Tidak, Karena beliau sangat mengetahui dan percaya akan bakti dan kesetiaan istri-istrinya.
Yang justru beliau risaukan adalah para istri dan para wanita di akhir zaman nanti, Sebab banyak istri yang tidak lagi merasa berdosa apabila berbuat kesalahan kepada suaminya. Mereka merasa memiliki hak yang sama dalam segala hal dengan suaminya, sehingga untuk keluar rumah pun, mereka tidak lagi merasa perlu meminta izin kepada suaminya.
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر – ولله الحمد
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Pada hari ini Allah SWT membukakan pintu taubat bagi siapa saja yang beriman dan bertakwa kepadaNya.
Melalui ibadah di bulan Ramadlan, dosa kita kepada Allah akan terampuni. Akan tetapi Allah tidak akan memberi ampunan kepada kita sebelum kita meminta maaf kepada sesama manusia yang berbuat salah atau dosa.
Oleh karena itu, selepas kita melaksanakan shalat ‘Idul Fithri ini, marilah kita kembali ke rumah masing-masing dengan suasana gembira untuk saling memaafkan.
Bersimpuhlah di hadapan kedua orangtua kita untuk meminta maaf dan ridlanya, karena bagaimanapun banyaknya harta yang kita miliki, betapapun tingginya pangkat dan jabatan, serta berapa pun banyak gelar yang tercantum di depan nama, tidak akan ada artinya tanpa ridla dari kedua orangtua kita.
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Mengapa kita diwajibkan untuk memuliakan ayah dan ibu?
Rasanya tidak cukup waktu untuk menjawabnya. Namun secara ringkas dapat dijelaskan bahwa ibu telah mengandung kita sembilan bulan bahkan lebih, tidak pernah mengeluh, tidak merasa jengkel, dan tidak terbebani dengan jabang bayi dalam perutnya.
Ibu kita bersih dari pamrih, tidak pernah berharap balasan dari sang bayi yang dikandungnya itu.
Sebaliknya, ibu akan merasa bahagia jika anaknya merasakan kebahagiaan, dan ibu akan turut sedih dan susah jika anaknya mengalami kesusahan.
Sang ibu tidak akan makan sebelum anaknya makan, dan tidak akan berpakaian bagus jika anaknya belum dibelikannya pakaian.
Pantaslah kiranya jika air mata kebahagiaan seorang ibu akan menjadi rahmat dan jaminan kebahagiaan bagi anaknya. Sebaliknya, air mata kepedihan seorang ibu karena ulah sang anak, akan menjadi laknat bagi kehidupan sang anak.
Hadirin, sidang shalat Id yang berbahagia! رحمكم الله
Jika ibu menjadi tumpuan hidup, maka ayah pun demikian.
Keringat ayah siang dan malam membasahi tubuh karena mencari bekal untuk hidup anak dan isterinya.
Sang ayah akan merasa bangga jika anaknya menjadi seoranag sarjana, sementara ia sendiri barangkali tidak pernah menikmati bangku sekolah.
Sang ayah akan bahagia jika anaknya menjadi seorang yang kaya, meskipun ia sendiri hidup dalam gubug derita berhias kemiskinan.
Pengorbanan seorang ayah juga tak ada tandingannya. Baginya tiada istilah hina dalam menekuni pekerjaan demi agar sang anak menjadi manusia berguna.
Akan tetapi sayangnya, ada sebagian orang anak yang merasa rendah diri dan hina jika keadaan dan penampilan ayahnya tidak sehebat ayah temannya. Padahal sang ayah sendiri tidak lagi perduli akan keadaan dirinya.
Sang ayah tidak lagi memperhatiakan sehat dan sakit, asalkan anak dan isterinya dapat hidup dengan layak.
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Jika kita hitung dengan penuh kesadaran, maka betapa ayah dan ibu kita telah mengorbankan segalanya untuk hidup anaknya.
Pantaslah jika Rasul Allah sas. menggariskan bahwa ridla dan laknat Allah tergantung pada ridla ayah dan ibu. Sabdanya:
رِضَا اللهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ (رواه البيهقيّ عن عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو)
(Keridlaan Allah tergantung pada keridlaan ibu-bapak, dan kebencianNya pun ada pada kebencian keduanya). (HR. al-Baihaqi dan at-Tirmidzi)
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Idul Fitri menandai berakhirnya puasa pada bulan Ramadan.
Dalam bulan Ramadlan manusia memperoleh paket pendidikan yang ekstra hebat, mulai dari menahan nafsu biologis, seperti makan, minum, dan lainnya, hingga menahan nafsu psikologis seperti marah, dengki (hasud), dendam, terror (fitnah), adu-domba (namimah), sombong dan congkak (takabbur), merasa yang paling (ananiyyah), ujaran kebencian (hatespeech), dan sebagainya.
Paket pendidikan melalui puasa, shalat tarawih dan sunnah malam, qira`ah al-Qur`an, sedekah, zakat, dan amal baik lainnya, bertujuan untuk memperoleh staus muttaqin (al-Baqarah: 183).
Kaum muslimin juga harus membayar zakat fitrah. Tujuannya adalah untuk memberi kebahagiaan kepada kaum fakir miskin. Setelah itu, kaum muslimin saling bermaaf-maafan.
Dengan saling memaafkan dalam merayakan Idul Fitri ini, kita akan kembali kepada fitrah kesucian.
Dosa-dosa yang kita miliki terhadap sesama manusia terhapuskan sudah, dan tercipta kembali suasana kekeluargaan dan persaudaraan yang akan menentramkan batin. Di mana anak terisak di pangkuan orangtuanya, suami isteri merajut kembali cinta-kasih yang mulai pudar.
Begitu pula sesama saudara, teman, kerabat, tetangga, dan relasi saling bertegur sapa, menghidupkan kembali solidaritas dan kepekaan sosial demi terciptanya ketentraman kehidupan keluarga, masyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Allâh berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
(Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat). (QS Al Hujurat: 10)
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر – ولله الحمد
Hadirin, sidang shalat ‘Id yang berbahagia! رحمكم الله
Marilah kita syukuri nikmat karunia Allah SWT kepada kita hari ini, di mana kita telah sampai dan dapat berlebaran dengan penuh limpahan rahmat dan anugerahNya.
Marilah pula kita panjatkan do’a ke hadirat Allah SWT, mengakui segala kekurangan dan kelemahan sembari memohon ampunan dan taubat atas segala dosa dan kesalahan yang kita lakukan di masa-masa silam.
Semoga puasa kita di bulan Ramadlan diterima oleh Allah, menjadi warga negara yang baik, yang mengembangkan nila-nilai rahmah, menjauhkan benih-benih kehidupan yang bernuansa radikalisme, menjurus pada tindakan terorisme.
Semoga kita tetap menjadi ummat yang rajin beribadah dan bekerja dalam Negara yang bersatu, adil, makmur, gemah-ripah loh-jinawi, toto-tentrem kerto rahajo, hingga kita temukan negara yang baldah thayyibah warabbun ghafur.
جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين ، وتقبل الله منا ومنكم ، أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ، الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. (ال عمران: 133-134)
وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين.
!
(2)
الله أكبر (7 مرات)- الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسيحان الله بكرة وأصيلا،
لآإله إلا الله والله أكبر– الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله الذي جعل الأعياد بالأفراح والسرور، وضاعف للمتّقين جزيل الأمور. فسبحان من حرّم صومه وأوجب فطره وحذّر فيه من غرور. أحمده سبحانه وتعالى فهو أحقّ محمود وأجلّ مشكور.
أشهد أن لآاله إلا الله وحده لاشريك له، شهادة يشرَح الله لها لنا الصدور، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله الذي أقام منار الإسلام بعد الدثور.
وصلى الله على سيدنا محمد المختار وعلى اله وأصحابه الأخيار، صلاة وسلاما دائمين متلازمين إلى يوم البعث والنشور.
أما بعد، فيا أيها الحاضرون المسلمون، اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن إلا وأنتم مسلمون،
واعلموا أن يومكم هذا يوم عظيم، فأكثروا من الصلاة على النبي الكريم. فقد أمركم الله تعالى بذلك إرشادا وتعليما وإجلالا لنبيّه ورسوله وتعظيما. وقد قال الله تعالى في القرآن الكريم: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا وحبيبنا محمد النبيّ الأمّي الأَوّاه، وعلى اله وصَحبه ومن والاه، وعلى التابعين وتابعي التابعين، وعلى أنبياءك ورسلك وملائكتك المقرّبين، وارض عنا معهم وارحمنا برحمتك ياأرحم الراحمين.
- اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات، ياقاضي الحاجات وغافر الذنوب والخطيئات، برحمتك ياأرحم الراحمين.
- اللهم اغفر لنا ولوالدينا واحمهما كما ربيانا صغارا، واغفر لأولادنا ومشايخنا ومشايخ مشيخنا ولذوي الحقوق علينا.
- اللهم احفظنا والمسلمين وانصرنا وجُيوس المسلمين وأعزّ الإسلام والمسلمين وقَوّ الإسلام والمسلمين، وأهلك الكفرة والمبتدعين والمشركين والظالمين والحاسدين واالفاسدين، ودمّر أعداءك أعداء الدين ...
- اللهم انصر من نصر الدين واخذل من خذل المسلمين، واجعل بلدتنا إندونيسيا هذه بلدة طيبة تجري فيها أحكامك وسنة رسولك ياحيّ ياقيوم ياإلهنا وإله كل شيئ، هذا حالنا ياالله لايخفى عليك.
- ربنا تقبل منا صلاتنا وصيامنا وقراءتنا وتكبيرنا وتسبيحنا وتحميدنا وتهليلنا وكل سائر أعمالنا، واجعلنا من العائدين والفائزين، برحمتك يآ أرحم الراحمين.
- اللهم وفقنا لعمل صالح يبقى نفعه على ممر الدهور. وجنبنا من النواهى وأعمال هى تبور.
- اللهم أصلح ولاة أمورنا. وبارك لنا فى علومنا وأعمالنا. اللهم ألف بين قلوبنا وأصلح ذات بيننا.
- اللهم اجعلنا أن نُعظّم شكرك. ونتبع ذكرك ووصيتك.
Ya Allah, bersihkan hati dan jiwa ini dari hasad dan dengki, persatukan jiwa-jiwa ini dalam cinta karenaMu dan dalam ketaatan kepadaMu, jangan Engkau biarkan setan musuhMu menggerogoti persaudaraan kami.
Ya Rabb, bukakan pintu hati kami agar selalu sadar bahwa hidup ini hanya mampir sejenak, hanya Engkau tahu kapan ajal menjemput kami, jadikan sisa umur menjadi jalan kebaikan bagi ibu bapak kami, jadikanlah kami menjadi anak-anak bangsa yang shaleh yang dapat memuliakan ibu bapak kami.’’
ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار.
__________
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي،
يعظكم لعلكم تذكّرون. اذكروا الله العظيم يذكركم
واسئلوه من فضله يُعطكم ويهدكم ، ولذكر الله أكبر
والسلام عليكم
!
Kudus, 1 Syawwal 1440 H.
5 Juni 2019
Mahlail Syakur Sf. (Ketua LTN PWNU Jawa Tengah)

Komentar
Posting Komentar