Zakat Fitrah dan Niatnya ala NU
NIAT
ZAKAT FITRAH
oleh Mahlail Syakur Sf.
Zakat Fitrah
Zakat fitrah merupakan perintah Allah kepada setiap individu berupa
sedekah wajib dengan takaran yang telah ditentukan. Kewajiban zakat
fitrah didasarkan pada hadits riwayat sebagai berikut:
وخبر أبي سعيد: كنا نخرج زكاة الفطر
إذ كان فينا رسول الله صلّى الله عليه وسلم صاعاً من طعام، أو صاعاً من تمر، أو
صاعاً من شعير، أو صاعاً من زبيب، أو صاعاً من أَقِط، فلا أزال أخرجه كما كنت
أخرجه ما عشت (رواه الجماعة)
Artinya,
“Hadits riwayat Abu Said Al-Khudri menyebutkan, ‘Kami membayar zakat fitrah
sebesar satu sha‘ makanan, satu sha‘ kurma, satu sha‘ gandum, satu sha‘ kismis,
atau satu sha‘ susu kering ketika Rasulullah SAW masih berada di tengah kami
dahulu. Kini selama hidup, aku selalu membayar zakat fitrah satu sha‘ sebanyak
dulu pembayaran zakatku,’” (HR Jamaah).
Zakat
fitrah memiliki banyak sebutan yang berkembang di masyarakat. Istilah
yang ramai digunakan masyarakat adalah “zakat fitrah”, “fitrah”, “zakat
badan”, atau “zakat kepala” sebagaimana keterangan berikut ini:
زكاة الفطر أضيفت الزكاة إلى الفطر
لكونها تجب بالفطر من رمضان. وتسمى بعدة أسماء: زكاة رمضان، زكاة الصوم، صدقة
الفطر، زكاة الأبدان، صدقة الرؤوس.
وأما قول العوام الفطرة فمولّد [1]
Artinya, “Zakat fitri, sebuah istilah di mana zakat
dilekatkan pada kata ‘fitri’ karena zakat ini wajib lantaran fitri atau berbuka
dari Ramadhan. Zakat fitri memiliki beberapa nama, yaitu zakat Ramadhan, zakat
puasa, sedekah fitri, zakat badan, dan sedekah kepala. Adapun sebutan orang
awam ‘fitrah atau zakat fitrah’ adalah turunan darinya,”
[1](Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas
Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut,
Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 249).
Adapun
sha' sendiri merupakan ukuran takaran, bukan timbangan atau ukuran
berat. Takaran sha berlaku di zaman Nabi Muhammad SAW, yakni takaran
masyarakat Madinah.
Satu sha setara dengan
empat mud. Sedangkan satu mud adalah besar cakupan penuh dua telapak
tangan orang dewasa pada umumnya. Dengan demikian, satu sha memuat empat
kali cakupan penuh dua telapak tangan orang dewasa.
Seluruh amal ibadah harus melibatkan niat. Bukan hanya ibadah wajib tetapi juga ibadah sunnah. Niat merupakan bagian dari penentu sah atau tidaknya suatu amalan. Tak terkecuali pada pelaksanaan zakat fitrah yang wajib ditunaikan oleh setiap individu Muslim, baik laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak, merdeka, ataupun hamba sahaya. Setiap
Muhammad bin Qasim al-Ghazi dalam Kitab Fath al-Qarib mejelaskan bahwa
ada tiga kondisi yang membuat orang wajib membayar zakat. Pertama,
beragama Islam. Kedua, menjumpai waktu wajibnya zakat, yakni akhir
bagian dari Ramadhan dan awal bagian dari Syawal. Orang yang meninggal sebelum
masuk 1 Syawal tak wajib zakat fitrah, begitu pula bayi yang lahir setelah
habis bulan Ramadhan. Ketiga, memiliki makanan pokok yang melebihi dari
kebutuhannya dan keluarganya pada saat hari raya atau malamnya.
Meski wajib mengeluarkan zakat, tetapi tidak
semuanya wajib menanggung sendiri beban kewajiban itu. Si A yang bertanggungjawab
atas nafkah si B wajib mengeluarkan zakat untuk si B. Misalnya, seorang ayah
atau suami wajib menanggung zakat fitrah untuk anak-anak atau istrinya.
Waktu Pembayaran
Adapun waktu wajibnya zakat fitrah adalah sejak terbenamnya matahari pada hari akhir bulan Ramadhan. Artinya, bayi yang lahir sebelum terbenam matahari atau orang yang mati setelah terbenam matahari sudah dan masih berkewajiban membayar zakat fitrah.
Sedangkan waktu membayar zakat fitrah adalah sebelum shalat hari raya Idul Fitri. Dan boleh dilakukan sejak awal bulan Ramadhan menurut madzhab Syafi'i. Yang utama menjelang sehari atau dua hari sebelum lebaran Idul Fitri.
Jika lewat dari shalat Idul Fitri, maka jatuhnya sebagai sedekah.
Orang yang Wajib Membayar Zakat Fitrah
Menurut Al-Ghazi dalam Fathul Qorib, syarat wajibnya zakat Fitrah ada 3 yaitu (a) Islam, (b) terbenamnya matahari pada hari akhir bulan Ramadan dan (c) ada kelebihan makanan pokok untuk menunaikan zakat fitrah pada malam dan siangnya hari raya Idul Fitri .
Jadi, anak kecil maupun dewasa, tua dan muda, laki-laki dan perempuan wajib bayar zakat fitrah. Khusus untuk bayi, anak kecil dan istri maka yang wajib menunaikan zakat adalah laki-laki yang wajib menafkahinya yaitu ayah dan suami. Namun, bagi yang mampu dianjurkan membayar sendiri.
Niat Zakat Fitrah
Dalam konteks
zakat fitrah, niat lebih dibutuhkan ketimbang ijab-qabul. Sebab, zakat bukanlah
praktik transaksi (akad), selayak jual beli atau sewa-menyewa. Ia ada pemberian
searah dari orang yang wajib kepada orang yang berhak.
Dalam hal ini, niat adalah wajib, sementara ijab-qabul tidak.
Niat adalah i'tikad tanpa ragu untuk
melaksanakan sebuah perbuatan. Meski niat adalah urusan hati, melafalkannya (talaffudh)
akan membantu seseorang untuk menegaskan niat tersebut. Talaffudh berguna
dalam memantapkan i'tikad karena niat terekspresi dalam wujud yang konkret,
yaitu bacaan atau lafal.
Berikut ini adalah beberapa lafal niat zakat fitrah dalam bahasa Arab.
1. Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri:
1. Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri:
ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَﻥْ أُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ
ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْسيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
2. Niat Zakat Fitrah untuk Istri:
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ
ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
3. Niat Zakat Fitrah untuk Anak Laki-laki:
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ
ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
(Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku …. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ)
4. Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan:
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ
ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
(Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku …. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ)
5. Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga:
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ
ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ
ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
(Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang
nafkahnya menjadi tanggunganku, fardu karena Allah Ta‘âlâ)
6. Niat Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan:
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ
ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Saat menerima zakat fitrah, seorang PENERIMA disunnahkan mendo’akan pemberi zakat dengan do’a-do’a yang baik. Do’a bisa dilafalkan dengan bahasa apa pun. Di antara contoh do’a untuk pemberi zakat (firth) adalah:
ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ،
ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭًﺍ
(Semoga
Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah
memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya sebagai
pembersih bagimu).
Perlu dicatat di sini bahwa sebagaimana tidak diwajibkannya
pengucapan/pembacaan (talaffudh, تلفّظ),
penggunaan bahasa Arab ketika talaffudh itu dilakukan juga
bukanlah keharusan. Seseorang bisa melafalkan niat tersebut dengan bahasa lokal
masing-masing karena pada prinsipnya ia hanyalah "sarana bantu" untuk
memantapkan niat berzakat fitrah, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain.
Yang paling pokok adalah terbesitnya dalah hati bahwa dia benar-benar
bersengaja untuk menunaikan zakat fitrah.
Mahlail Syakur Sf. (Dosen FAI Unwahas, Ketua LTNNU Jawa Tengah)
Materi disadur dari NU-online http://www.nu.or.id/post/read/85110/lafal-lafal-niat-zakat-fitrah







Nuwun sewu wonten artikel tentang Zakat Maal mboten njih....
BalasHapusOnten إن شاء الله
HapusDitunggu, njih