Hari 'Asyura` - Bubur Suran
Amalan di Hari ‘Asyura` (Bulan Muharram)
Keutamaan bulan Muharram tidak perlu disangsikan lagi karena Muharram disebut oleh Nabi Muhammad saw. sebagai bulan Allâh (syahr Allâh = شهر الله). Namun keutamaan itu harus diisi dengan berbagai amalan-amalan yang berbobot, sehingga keutamaan itu benar-benar bernilai. Baik secara individual maupun sosial.
Para ‘ulama sudah mengklasifikasikan jenis amalan yang hendaknya dipraktikkan selama bulan Muharram terutama pada hari kesepuluh (‘asyura`) atau hari ‘Asyura`, yaitu:
1) melakukan shalat,
2) berpuasa,
3) ber-shilaturrahim,
4) bershadaqah,
5) mandi,
6) memakai celak mata,
7) berziarah kepada ‘ulama (baik yang hidup maupun yang meninggal),
8) menjenguk orang sakit,
9) menambah nafkah keluarga,
10) memotong kuku,
11) mengusap kepala anak yatim, dan
12) membaca surat al-Ikhlas sebanyak 1000 kali.
Sebagian ‘ulama telah mengawetkan amalan-amalan tersebut dalam bentuk nadham yang dinukil oleh as-Syaikh Abdul Hamid dalam kitabnya Kanz an-Naja was-Surur Fi Ad'iyyah Tasyrahus Shudur dengan tujuan agar mempermudah mengingatnnya sebagai berikut:
فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ
صُمْ صَلِّ صِلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ
وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْإِخْلاَصِ قُلْ أَلْفَ تَصِلْ
(Ada sepuluh amalan di dalam bulan ‘asyura, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna: Puasalah, shlatlah,sambung silaturrahim, ziarah orang alim, menjengk orang sakit dan celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bershadaqah dan mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, membaca surat al-Ikhlas 1000 kali.
Kedua amalan ini hendaknya diperbanyak selama bulan Muharram, mengingat keutamaannya yang terdapat di dalamnya.
(Selasa 28 Oktober 2014)
Adapun dalam tradisi Suronan, kalangan pesantren biasanya membuat bubur nasi, yaitu bubur abang (bubur merah) yang rasanya manis karena dibubuhi gula merah, dan bubur putih yang rasanya gurih.
Wujud Bubur Suran (Bubur Suronan) cukup banyak ragamnya, tentu sesuai asal daerah dan selera masyarakat penerus tradisi ini.
Contoh 1:
Contoh 2:
Contoh 3:
Contoh 4:
Contoh 5:
Contoh 6:
Warna-warna ini merupakan simbol dua hal yang selalu berlawanan di dunia, misalnya laki-laki dan perempuan, siang dan malam, ataupun baik dan buruk.
Bulan Suro adalah bulan terjadinya peperangan antara yang baik dan yang buruk, sebagaimana tampak dalam tragedi pembunuhan Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala.
Sebagian masyarakat Jawa menekankan momentum Suro pada malam tanggal satu Suro, yaitu malam tahun baru bagi penanggalan Jawa Kuno. Mereka percaya pada malam ini berbagai kekuatan spiritual turun ke bumi untuk mendatangi orang-orang yang berhati bersih dan suci.
Biasanya mereka kemudian melakukan Patigeni, yaitu tirakatan selama 24 jam tanpa tidur dan tidak makan untuk mengharap datangnya pesan dari langit. Ada juga yang melakukannya dengan merendam diri di sungai dan mandi di tempat-tempat tertentu. Sedangkan orang-orang yang memiliki pusaka (keris, jimat, dan lain-lain) akan memandikan dan membersihkannya pada hari keramat ini. (Sumber: Ensiklopedi NU)
Demikian, dan semoga bermanfa’at bagi kita.
Penulis: Mahlail Syakur Sf. (Dosen FAI Unwahas Semarang, Ketua LTN PWNU Jawa Tengah)







Komentar
Posting Komentar