Satu Suro Tahun Jawa
TRADISI SATU SURO
Oleh Mahlail Syakur Sf.
Pendahuluan
Salah satu kerajaan terbesar yang pernah berjaya di Jawa dan Nusantara dalah Kesultanan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung sebagai Sultan ketiga(1613-1645). Nama asli Sultan Agung adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Jabatannya adalah Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (Bahasa Jawa: ꦯꦸꦭ꧀ꦠꦤ꧀ꦲꦒꦸꦁꦲꦢꦶꦦꦿꦧꦸꦲꦚꦏꦿꦏꦸꦱꦸꦩ = Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo).
Dalam masa Sultan Agung seluruh Pulau Jawa dan beberapa kerajaan di Borneo (Kalimantan) dan Sulawesi sempat tunduk dalam kekuasaan Kesultanan Mataram, kecuali Batavia yang masih diduduki militer VOC Belanda.
Wilayah luar Jawa yang berhasil ditundukkan adalah Palembang di Sumatera (tahun1636) dan Sukadana di Kalimantan (tahun1622).
Sultan Agung juga menjalin hubungan diplomatik dengan Makassar, negeri terkuat di Sulawesi saat itu.
Sultan Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar yang tidak hanya dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan, tetapi melalui kebudayaan rakyat yang adiluhung dan mengenalkan sistem-sistem pertanian. Negeri-negeri pelabuhan dan perdagangan seperti Surabaya dan Tuban dimatikan, sehingga kehidupan rakyat hanya bergantung pada sektor pertanian.
Sultan Agung menaruh perhatian besar pada kebudayaan Mataram. Ia memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram.
Pengertian Satu Suro
Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura (Suro) yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah, karena sistem penanggalan dalam Kalender Jawa ini pertama kali diperkenalkan atau diterbitkan oleh Sultan Agung mengacu penanggalan Hijriyah (Islam). Sultan Agung adalah Raja Mataram Islam, yaitu Mas Rangsang atau lebih dikenal dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Di bawah kekuasaannya, Kerajaan Mataram Islam berada dalam masa kejayaannya pada awal abad ke-17.
Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram Islam yang memperkenalkan Kalender Jawa
(Somber: soloevent.id)
Kerajaan ini pertama kali didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan yang merupakan keturunan dari Kerajaan Majapahit. Maka pada awalnya wilayah kerajaan ini masih sebagian besar dipengaruhi oleh agama Hindu.
Sebagai seorang Muslim yang taat dan untuk memperluas kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung berupaya mengkombinasikan penanggalan Islam atau hijriah yang banyak dianut oleh masyarakat pesisir dengan penanggalan Hindu (Saka) yang masih dianut oleh masyarakat pedalaman beragama Hindu Kejawen. Hal ini juga dilakukan untuk memperkuat Kerajaan Mataram Islam dengan tradisi Jawa dan pengaruh Islam dari kekuatan asing.
Akhirnya Sultan Agung mengeluarkan dekrit yang menyatakan penggunaan sistem penanggalan Jawa di seluruh kerajaan, hal mana sistem penanggalan ini merupakan kolaborasi sistem penanggalan Hijriyyah dan sistem penanggalan Saka.
Perhitungan tanggal dalam sistem Jawa menggunakan sistem perhitungan berdasarakan peredaran bulan seperti yang didasari dalam penanggalan Hijriyyah, namun angka tahun yang digunakan masih menggunakan penanggalan Saka. Sehingga bulan 1 Suro Jawa diterima sebagai awal tahun Jawa tetapi tahunnya tidak dimulai dari tahun 1, melainkan dari tahun 1555 berdasarkan tahun penanggalan Saka.
Satu suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum tangal satu biasanya disebut malam satu suro, hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam.
Satu Suro memiliki banyak pandangan dalam masyarakat Jawa, hari ini dianggap keramat terlebih bila jatuh pada Jum'at Legi. Bagi sebagian masyarakat pada malam Satu Suro dilarang untuk ke mana-mana kecuali untuk berdo'a ataupun melakukan ritual (ibadah) lain.
Tradisi dalam Satu Suro
Tradisi saat malam Satu Suro bermacam-macam tergantung dari daerah mana memandang hal ini. beberapa tradisi dapat diketahui, yaitu:
a. Tapa Bisu (mengunci mulut), yaitu tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini berlangsung. Makna tradisi ini adalah sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang telah dilakoninya selama setahun penuh guna menghadapi tahun baru di esok paginya.
b. Kungkum (berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu); Tradisi ini sangat terkenal di Jawa terutama oleh masyarakat Semarang dan sekitarnya karena tradisi ini dilakukan di Tugu Soeharto yang berada di sungai yang letaknya di sebelah baaarat bawah jembatan besi Dewi Sartika - Bendan, atau di sebelah selatan Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajah Mungkur.
c. Tirakatan (tidak tidur semalam suntuk) dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoa) dan Pagelaran Wayang Kulit. Tradisi ini paling mudah ditemui di Jawa, terutama di seputaran Yogyakarta.
d. Ruwatan; Sebagian masyarakat menggunakan malam Satu Suro sebagai momentum yang tepat untuk melakukan ruwatan.
c. Tirakatan (tidak tidur semalam suntuk) dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoa) dan Pagelaran Wayang Kulit. Tradisi ini paling mudah ditemui di Jawa, terutama di seputaran Yogyakarta.
d. Ruwatan; Sebagian masyarakat menggunakan malam Satu Suro sebagai momentum yang tepat untuk melakukan ruwatan.
Ditulis di Kudus, Ahad Wage, 1 Suro 1953, 1 Muharram 1441 H., 1 September 2019 M.

Komentar
Posting Komentar